Notification

×

Iklan

Empat Bulan Menjelang Masa Jabatan Nova Berakhir, Kemiskinan Aceh Kian Parah

Kamis, 03 Februari 2022 | 11.56 WIB Last Updated 2022-02-03T05:41:24Z
Gemarnews.com, Banda Aceh - Tahun ini merupakan tahun kelima Pemerintahan Nova Iriansyah sebagai pimpinan Pemerintahan di Provinsi Aceh. Namun sangat disayangkan, selama lima tahun memimpin daerah ini, tingkat kesejahteraan rakyat bukannya bertambah baik, malah kian menurun. Terbukti, Badan Pusat Statistik (BPS ) kembali menempatkan Aceh masuk lima besar daerah termiskin di Indonesia.

Padahal jika  menelaah target-target yang dicanangkan Nova Iriansayah dalam RPJM Aceh,  terlihat sekali kalau ia begitu yakin kalau system pemerintahannya akan membawa banyak perubahan  bagi masyarakat. Nova pernah menargetkan, di akhir  kepemimpinannya, tingkat kemiskinan Aceh akan turun di bawah 15%.

“Dalam setahun kita targetkan kemiskinan Aceh dapat turun satu persen,” katanya dalam beberapa kali menyampaikan pidato di rang publik semenjak Ia menggantikan posisi Irwandi Yusuf sebagai pimpinan Pemerintahan di Aceh. Ketika Nova menjabat sebagai Gubernur Aceh pada 2019, tingkat kemiskinan Aceh saat itu  berkisar   15,32 persen.

Namun siapa sangka,  dua tahun setelah itu, tingkat kemiskinan Aceh bukannya menurun, tapi bertambah parah. BPS Aceh, pada Rabu (2/2/2022) menyebutkan kalau tingkat kemiskinan Aceh saat ini melonjak hingga 15,53 persen. 

Terhitung sejak Maret 2021 hingga September 2021, penambahan warga miskin di Aceh mencapai 16.020 orang. Dengan demikian jumlah penduduk Miskin Aceh pada September 2021 sudah mencapai 850.260 orang.

“Fakta ini sangat berbading terbalik dengan kampanye yang dicanangkan Nova selama ini. Nova lebih banyak bermain di pencitraan dengan mengangkat beberapa buzzer politik sebagai tim asistensinya, Namun kerja mereka semua sia-sia, sebab asistensi itu lebih berorientasi menguras dana APBA ketimbang bekerja,” kata Sudirman Hasan , Sekjen Forum LSM Aceh.

Oleh sebab itu, wajar jika Nova mendapat kritikan di sana sini.  Hubungannya dengan legislative juga sangat buruk karena banyak kegiatan dan program pembangunan yang berjalan asal-asalan.

“Ini menjadi pembelajaran bagi masyaraat Aceh agar tidak sembarangan memilih pemimpin ke depan. Juga pembelajaran bagi pemimpin di Aceh agar jangan asal merekrut tim asistensi dan buzzer yang  hanya berorientasi kepada kepentingan finansial,” tambah Sudirman Hasan.

Kondisi kemiskinan di Aceh, tambah Sudirman lagi,  sangat  berbanding terbalik dengan tingkat kesejahteraan pejabat dan orang-orang  dekat gubernur.  Sudirman Hasan meyakini, tingkat kesejahteraan orang-orang itu justru meningkat.  Hal itu terlihat dari banyaknya pejabat di Aceh yang membeli property dan memiiki sejumlah asset di luar provinsi.

Kondisi ini tentu saja menghadirkan  citra buruk bagi Pemerintahan di Aceh,  apalagi mengingat Aceh sedang berupaya keras merayu  Pemerintah Pusat untuk memperpanjang kebijakan pemberian Dana Otonomi khusus yang akan habis masa berlakunya pada 2027 mendatang. 

“Kalau kondisinya begitu, wajar saja Pemerinah Pusat curiga  kalau Dana Otsus Aceh  justru menjadi ajang bagi-bagi uang di kalangan pejabat dan para kroninya. Hal ini  menjadi tantangan tersendiri bagi Aceh,” kata Sudirman Hasan.

Masa kepemimpinan Nova sebagai Gubernur Aceh akan berakhir pada 4 Juli tahun ini. Berarti, tambah Sudirman, masih ada tenggang waktu 4 bulan lagi Nova menjabat sebagai Gubernur Aceh. 

Sudirman Hasan berharap masyarakat lebih kritis  melihat  kebijakan yang dijalankan Nova dan para asistensinya, sehingga jika ada yang bertentangan dengan hukum, agar segera mendapat tindakan. ()

Wartawan : Bahagia Ishak
×
Berita Terbaru Update