Aceh Timur -Salah seorang seorang warga berinisial RF asal Bantayan, kecamatan Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur Diduga menghina desa serta perangkat desa dengan sebutan yang tidak pantas.
Hal tersebut di ketahui oleh masyarakat setempat melalui status WhatsApp RF sehingga beberapa masyarakat langsung meng screenshot WhatsApp RF.Selasa (24/3/2026).
Dalam unggahan di WhatsApp RF melontarkan kata-kata yang tidak pantas yaitu.
"Alah hy bi****tang Bantayan Jai that bi****tang di Bantayan 😁😁😁😁.(Alah hai bi****tang Bantayan banyak sekali bi****tang Bantayan).
"Lam Uruk deuh,yang merantau dueh,yang bineh jalan ka buta Hana dueh geu kloen geuchik Bantayan.(Dalam lobang nampak yang merantau nampak,yang di pinggir jalan tidak terlihat oleh geuchik (kepala desa).
Hal ini bentuk protes dari RF yang menilai bahwa kepala desa tidak melihat kondisi masyarakat yang jauh di sana terlihat namun yang di sini terlupakan.
Namun sikap RF dengan kritikan membuat masyarakat Bantayan meresa geram karena bukan satu orang yang dituju ataupun kelompok malahan kesemua masyarakat desa bantayan.
Beberapa masyarakat desa bantayan langsung mendatangi kantor kepala desa guna untuk memanggil RF mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Kamaruzzaman Kepala desa bantayan bersama beberapa perangkat desa dan masyarakat langsung mendatangi rumah RF,Rabu (25/3/2026).
Dalam pertemuan tersebut RF akhirnya meminta maaf setelah menghina desa bantayan melalui status WhatsApp miliknya.
Rf mengakui kesalahannya karena berkata yang tidak pantas, maksud dan tujuan untuk mengkritisi kinerja kepala desa.
Permohonan maaf itu disampaikan langsung oleh RF dihadapan kepala desa dan masyarakat melalui video.
Rf menyampaikan permohonan maaf. Ia mengaku apa yang ditulisnya adalah bentuk kekhilafan, tidak pantas, dan menyinggung banyak pihak
Rf warga desa bantayan, meminta maaf setelah menghina atau berkata yang tidak pantas untuk masyarakat Bantayan
“Saya menyesal dan menyadari kesalahan saya. Saya mohon maaf kepada kepala desa dan seluruh masyarakat atas pernyataan saya yang kasar di media sosial.
Menanggapi permintaan maaf tersebut,Kamaruzzaman
Kepala desa setempat menunjukkan sikap yang patut dicontoh. Ia menerima permintaan maaf itu dengan lapang dada dan mengimbau agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
“Saya memaafkan dengan tulus. Namun mari kita jadikan ini sebagai pelajaran bersama. Jaga etika dan tutur kata, apalagi di ruang digital yang bisa diakses siapa saja. Media sosial adalah cermin dari diri kita. Jangan sampai kita kehilangan nilai sebagai orang yang beradab,” ujar kepala desa bantayan.
Sebagai masyarakat tidak masalah untuk mengkritik kinerja kami,namun kritikan serta saran yang kami mau untuk membangun desa.ujarnya.
"Saya tau tujuan RF mengkritik kami usai pasca banjir,namun kritik lah dengan sehat jangan sampai menimbulkan konflik dengan masyarakat seperti kejadian ini.
Beliau juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan senantiasa menjaga persaudaraan serta keharmonisan antar warga khususnya desa bantayan kecamatan simpang ulim.pungkasnya.

