GEMARNEWS.COM, KUTACANE - Perguruan Muhammadiyah Kutacane menggelar Seminar Pendidikan bertema “Dari Hati ke Hati: Seni Membimbing Murid dengan Keikhlasan” pada Ahad, 10 Mei 2026, di Gedung SDS Muhammadiyah Kutacane.
Kegiatan tersebut menjadi wadah penguatan semangat bagi para pendidik dalam membangun pembelajaran yang humanis, penuh kasih sayang, dan berlandaskan keikhlasan.
Seminar ini terselenggara melalui kolaborasi antarpendidik di lingkungan Perguruan Muhammadiyah Kutacane, yakni SMP Swasta Muhammadiyah 15 Kutacane, SD Swasta Muhammadiyah Kutacane, dan TK Aisyiyah Bustanul Athfal Kutacane.
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari Banda Aceh, Saprina Siregar, S.Pd.I., M.Pd., yang merupakan pengelola Sekolah Inklusi YKBS sekaligus dosen Program Studi PGSD di Universitas Ubudiyah Indonesia.
Seminar turut dihadiri perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Aceh Tenggara, Drs. Sahidal Kastri, M.Pd., jajaran Pimpinan Daerah Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah Aceh Tenggara, Ketua Dikdasmen Muhammadiyah Kutacane Rochmat Santoso, S.T., kepala sekolah tingkat TK Nurmala Sari, S.Pd., kepala sekolah SD Ifrah Hifsy, M.Pd., kepala sekolah SMP Idariani, S.Pd., serta sekitar 70 peserta yang terdiri atas guru dan staf dari tiga instansi pendidikan tersebut.
Ketua Dikdasmen Muhammadiyah Kutacane, Rochmat Santoso, S.T., dalam sambutannya mengajak seluruh peserta untuk mengikuti seminar dengan sungguh-sungguh agar ilmu yang diperoleh dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar sehari-hari.
“Mari umi dan ustadz guru hebat kami, simak seminar ini dengan baik agar ilmu yang disampaikan narasumber bisa bermanfaat dan diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari,” ujarnya.
Kegiatan seminar ini bertujuan menumbuhkan semangat para guru dalam mendidik dengan penuh kesabaran, kasih sayang, dan keikhlasan sehingga tercipta hubungan yang hangat antara guru dan murid serta pembelajaran yang lebih bermakna dan menyentuh hati.
Dalam pemaparannya, Saprina Siregar menjelaskan konsep “KAYANG” yang dimaknai sebagai pendidikan berbasis kasih sayang. Konsep tersebut berlandaskan nilai Asmaul Husna, yakni Ar-Rahman dan Ar-Rahim.
Ia menekankan bahwa guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga pembimbing yang memahami kondisi dan potensi setiap anak.
“Guru yang mengajar dengan kasih sayang tidak hanya melihat nilai, tetapi juga melihat potensi, memahami luka, dan percaya bahwa setiap anak bisa berkembang,” tegasnya.
Menurutnya, konsep tersebut mengandung makna ketulusan membimbing tanpa pilih kasih, empati terhadap kondisi anak, kesabaran menghadapi murid, kelembutan dalam menegur, keteladanan, serta cinta terhadap proses tumbuh kembang anak. Meski demikian, penerapan kasih sayang dalam pendidikan tetap harus disertai arahan dan ketegasan.
Ia juga menyampaikan bahwa perilaku dan perhatian seorang guru akan selalu diingat oleh murid hingga dewasa.
“Murid akan lupa dengan materi yang kita ajarkan, tetapi perilaku dan kasih sayang kita kepada mereka akan selalu dikenang hingga tua. Karena itu, perlakukanlah siswa dengan kasih sayang,” katanya.
Seminar berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para peserta aktif mengajukan pertanyaan seputar kiat mengajar anak usia dini, cara menghadapi anak hiperaktif, hingga pembagian peran guru dalam proses pembelajaran.
Kegiatan yang berlangsung sekitar enam jam tersebut dimulai pukul 09.00 WIB dan berakhir pada 15.00 WIB. Pada sesi penutupan, Saprina Siregar menyampaikan pesan inspiratif kepada seluruh peserta seminar.
“Kasih sayang dalam pendidikan bukan kelemahan, tetapi kekuatan yang menghidupkan jiwa.”
“Guru yang mengajar dengan kasih sayang tidak hanya mencetak murid pintar, tetapi juga melahirkan manusia yang penuh empati,” pungkasnya.( Riza Pajri)