Notification

×

Pelayanan RSUZA Dipertanyakan, Pasien Rujukan Ditolak dengan Alasan Tak Darurat

Minggu, 22 Maret 2026 | 22.45 WIB Last Updated 2026-03-22T15:45:10Z
Gemarnews.com, Banda Aceh – Pelayanan di RSUZA Banda Aceh kembali menjadi sorotan setelah seorang pasien rujukan dilaporkan tidak mendapatkan penanganan sebagaimana mestinya, meski dalam kondisi membutuhkan perawatan segera. 22/3/2026.

Rumah sakit rujukan tertinggi di Provinsi Aceh itu selama ini dikenal sebagai harapan terakhir bagi pasien yang membutuhkan penanganan medis lanjutan. Namun, peristiwa yang dialami pasien berinisial SA (55) justru memunculkan tanda tanya besar terkait profesionalisme pelayanan tenaga kesehatan di rumah sakit tersebut.

Kejadian itu bermula saat SA dirawat di RSUD Tgk Chik Ditiro Sigli pada Jumat (20/03/2026). Karena keterbatasan tenaga dokter spesialis, pihak rumah sakit menyarankan agar pasien dirujuk ke RSUZA Banda Aceh.

Namun, proses rujukan tidak berjalan mulus. Berdasarkan keterangan tenaga medis di RSUD Sigli, pihak IGD RSUZA menyampaikan bahwa pasien tidak dapat diterima melalui IGD dengan alasan kondisi pasien dinilai tidak termasuk kategori darurat (emergency), dan disarankan untuk dirujuk melalui poli klinik.

Keputusan tersebut dinilai janggal, mengingat pasien merupakan pasien rawat inap yang membutuhkan penanganan segera.

Direktur RSUD Tgk Chik Ditiro Sigli, dr. Faisal, mengaku terkejut dengan alasan penolakan tersebut.

“Itu pasien rawat inap di sini, kondisinya membutuhkan penanganan segera. Kok bisa dibilang tidak emergency dan tidak bisa masuk melalui IGD?” ujarnya saat dikonfirmasi.
Sementara itu, Humas RSUZA Banda Aceh, Harmadi, saat dimintai keterangan hanya memberikan pernyataan singkat. Ia menyebut bahwa proses rujukan merupakan kewenangan sistem rujukan (Sisrute), dan dirinya tidak mengetahui secara detail kasus tersebut.
Ia juga menyampaikan bahwa keterlambatan atau penolakan rujukan bisa terjadi karena keterbatasan kapasitas ruang perawatan yang sedang penuh.

Namun, penjelasan tersebut belum mampu meredam kritik, terutama terkait komunikasi dan respons pihak rumah sakit yang dinilai kurang sigap dalam menangani kasus pasien rujukan.

Kasus ini pun memicu perhatian publik, terutama mengenai standar pelayanan, koordinasi antar fasilitas kesehatan, serta profesionalisme tenaga medis dalam menangani pasien dengan kondisi mendesak.pungkasnya.

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update