Notification

×

Retak di DPRA: Mosi Tidak Percaya, Konflik Internal, dan Ujian Keadilan Politik Aceh

Kamis, 19 Maret 2026 | 22.25 WIB Last Updated 2026-03-19T15:25:13Z
Doc. Istimewa 

Penulis : Misran S.H Ketua Sekolah Pemimpin Muda Aceh 


GEMARNEWS.COM - Gelombang penolakan terhadap kepemimpinan Zulfadli di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh tidak terjadi secara tiba-tiba menjadi pertanyaan publik 


Hingga muncul Mosi tidak percaya yang didukung 67 dari 81 anggota dewan menjadi penanda menguatnya ketegangan internal yang telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.


Sejumlah dinamika menunjukkan bahwa relasi antara pimpinan dan anggota tidak lagi berada dalam titik yang solid. 


Pola komunikasi politik yang dinilai kurang inklusif, ditambah dengan berbagai pernyataan publik yang memicu polemik, memperlebar jarak di internal lembaga. Dalam konteks legislatif daerah, situasi semacam ini kerap menjadi pemicu fragmentasi yang berdampak langsung pada efektivitas kerja kelembagaan. 


Disisi lain Ketika pengelolaan isu tidak dilakukan secara hati-hati, dampaknya tidak hanya terbatas di ruang publik, tetapi juga merembet ke dalam konfigurasi politik internal.


Di tengah situasi tersebut, Aceh juga dihadapkan pada tekanan eksternal yang tidak ringan. 


Bencana banjir di sejumlah wilayah dan persoalan ekonomi masyarakat menuntut respons kebijakan yang cepat dan terukur. 


Namun, konflik internal yang berkepanjangan justru berpotensi mengalihkan fokus dari agenda publik yang lebih mendesak.


Dalam perkembangan yang terjadi, semangat yang muncul dalam dinamika politik ini belum sepenuhnya mencerminkan prinsip keadilan publik. 


Arah yang ditunjukkan memperlihatkan adanya jarak antara keputusan elite dan rasa keadilan yang hidup di tengah masyarakat. 


Ketika kebijakan tidak lagi selaras dengan harapan publik, maka yang muncul bukan hanya kritik, tetapi juga erosi kepercayaan terhadap institusi.


Secara politik, dukungan mayoritas terhadap mosi tidak percaya menunjukkan adanya pergeseran peta kekuatan di DPRA. 


Ini bukan sekadar ekspresi ketidakpuasan, tetapi juga mencerminkan konsolidasi baru di antara kekuatan politik yang ada. 


Dalam konteks ini, pergantian kepemimpinan menjadi bagian dari proses reposisi kekuasaan yang lebih luas.


Misran Menyebutkan bahwa Peran Muzakir Manaf menjadi krusial dalam menentukan arah penyelesaian. 


Sebagai figur sentral dalam konfigurasi politik Aceh, keputusan yang diambil tidak hanya berdampak pada penyelesaian konflik jangka pendek, tetapi juga pada stabilitas politik ke depan.


Jika tidak ditangani secara tepat, situasi ini berisiko meluas menjadi krisis legitimasi. 


Bukan hanya terhadap individu atau kelompok tertentu, tetapi terhadap institusi itu sendiri. 


Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melemahkan kepercayaan publik dan mengganggu kualitas tata kelola pemerintahan di Aceh.


Pada akhirnya, dinamika di DPRA hari ini bukan semata soal konflik internal, melainkan ujian bagi kematangan politik Aceh. 


Apakah mekanisme demokrasi mampu berjalan sebagai alat koreksi yang efektif, atau justru terjebak dalam tarik ulur kepentingan yang menjauh dari prinsip keadilan dan kepentingan publik.(***)

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update