GEMARNEWS.COM, TAKENGON – Cover majalan Tempo edisi 12 April
2026, menampilkan visual Ketua Umum Partai NAsDem, H. Surya Paloh disanalah
terlihat bahwa majalah Tempo telah kehilangan Nahkodanya. NasDem bukan
komoditas, tetapi restorasi cara berfikir politik yang panjang dan penuh
perjuangan. (12/4/2026)
Kami melihat
penyajian visual tersebut kurang beretika dan tidak sehat dalam berdemokrasi. Justru
terlihat sebagai bahan penghinaan, maka dari itu kami merasa perlu bersuara, ungkap
Wakil Ketua I Partai NasDem Kabupaten Aceh Tengah H. Hamdan SH.
Menurut H.
Hamdan, kebebasan berpendapat dan kritik terhadapa tokoh publik merupakan
bagian dari sistem demokrasi yang harus
di jaga. Kebebasan tidak boleh di gunakan tanpa batas hingga mengabaikan etika
jurnalistik. Publik perlu mendapatkan informasi yang utuh bukan potongan yang
menciptakan sensasi.
“perbedaan
hal yang wajar dalam berdemokrasi, namun didalam penyampaian pendapat harus
tetap menjaga etika dan integritas.” Menjadikan Ketua Umum kami sebagai objek
framing yang merendahkan bukan hanya persoalan etika jurnalistik, tetapi juga
soal tanggungjawab moral. ujar H. Hamdan
Ia menambahkan
lagi, kritik di bangun atas berbagai persoalan, argumentasi, serta data yang
objektif. Bukan melalui framing visual yang di nilai menghakimi perorangan. Kami
tidak meminta perlakuan istimewa, kami hanya menuntut keadilan dalam
pemberitaan karena. Pada akhirnya yang pertaruhkan bukan hanya nama baik satu
tokoh atau satu partai, tetapi kualitas demokrasi kita sendiri.
“ketika
kritik menjadi upaya membentuk persepsi melalui symbol yang menyerang
kehormatan, ini sudah keluar dari etika demokrasi yang sehat.” Hal ini bukan kontrol
sosial yang baik. Tapi, menggiring opini yang dapat membentuk persepsi keliru
ditengah masyarakat. Kata H. Hamdan.
H. Hamdan
Mengingatkan bahwa kebebasan pers tetap harus dijalankan profisionalisme dengan
cara menghormati martabat orang lain. Kebebasan adalah pilar demokrasi,
beretika agar tidak kebablasan.
Tidak semua
pemberitaan selalu mencerminkan realita yang utuh. Dalam kenyataannya, ada isu
menyampaikan justru bertolak belakang dari fakta sebenarnya. Bagi kami di NasDem,
harga diri itu bukan untuk ditawar. Tutup H. Hamdan (red/berlayarinfo.com)
