Gemarnews.com, Ruteng – Upaya memperkuat ketahanan masyarakat terhadap risiko bencana terus dilakukan melalui kolaborasi lintas lembaga. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University melanjutkan kerja sama dengan American Red Cross (Amcross) Indonesia dan Palang Merah Indonesia (PMI) dalam program “Empowering Local Entities and Communities to Take Rapid Action” (ELECTRA) di Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Program yang berlangsung selama 2025 hingga 2027 tersebut menitikberatkan pada pendekatan Nature-based Solutions (NbS) atau solusi berbasis alam untuk memperkuat perlindungan wilayah pesisir dan Daerah Aliran Sungai (DAS), sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat dalam Pengurangan Risiko Bencana (PRB).
Program ELECTRA telah berjalan sejak April 2025 di tujuh desa dan kelurahan di Kabupaten Manggarai. Berbagai tahapan awal telah diselesaikan, mulai dari Kajian Risiko Desa, pembentukan Tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT), hingga penyusunan Rencana Pengurangan Risiko (Risk Reduction Plan).
Dalam implementasi pendekatan NbS, Amcross menggandeng PKSPL IPB University dengan melibatkan tim multidisiplin yang terdiri dari ahli rehabilitasi ekosistem, arsitektur lanskap, sistem informasi geografis (GIS), pilot drone, sosial ekonomi, pengembangan mata pencaharian, hingga ahli kelembagaan masyarakat desa.
Tahap awal kegiatan dilakukan melalui pengumpulan data dasar guna menyusun Rencana Implementasi NbS yang nantinya diintegrasikan dengan upaya membangun kesiapsiagaan dan resiliensi masyarakat di tujuh desa sasaran.
Kajian lapangan dilaksanakan selama lima hari, mulai 24 April hingga 1 Mei 2026, mencakup wilayah pesisir selatan dan pesisir utara Kabupaten Manggarai. Wilayah selatan meliputi Desa Terong, Cambir Leca, dan Hilihintir di Kecamatan Satar Mese Barat.
Sementara wilayah utara mencakup Desa Lemarang dan Para Lando di Kecamatan Reok Barat serta Desa Robek dan Kelurahan Wangkung di Kecamatan Reok.
Sebagai bagian dari penguatan implementasi dan keberlanjutan program, PMI Kabupaten Manggarai bersama tim PKSPL IPB juga menggelar diskusi bersama Pemerintah Kabupaten Manggarai yang dihadiri berbagai perangkat daerah seperti BPBD, DLH, PMD, KPH, dan BAPPERIDA.
Pemerintah daerah menyambut baik program tersebut karena dinilai mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama integrasi aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi yang telah menjadi prioritas pembangunan daerah sejak tahun 2021.
“Kami sangat mendukung dan berharap kegiatan ini dapat segera terimplementasi karena menyentuh aspek lingkungan yang terintegrasi dengan sosial ekonomi masyarakat. Bahkan ke depan, kami berharap program ini dapat diperluas hingga menjangkau desa-desa pesisir seperti Desa Nuca Molas di Kecamatan Satar Mese Barat,” ujar Fransiskus Patrisius Dani, Kabid Infrastruktur dan Kewilayahan BAPPERIDA Kabupaten Manggarai.
Ketua tim kajian PKSPL IPB University, Andy Affandy, menjelaskan bahwa studi lapangan dilakukan untuk melihat langsung kondisi sosial dan lingkungan masyarakat di desa program.
Dari hasil identifikasi awal, terdapat empat isu utama yang ditemukan. Pertama, adanya kesamaan karakter risiko di tujuh desa berupa longsor, banjir rob, banjir limpasan sungai, abrasi pantai, hingga penyakit tanaman seperti hama padi dan penyakit pisang kepok.
Kedua, perlunya integrasi pendekatan NbS dalam pembangunan infrastruktur desa, seperti pembangunan tanggul penahan abrasi dan beronjong yang dipadukan dengan vegetasi sesuai karakteristik lokal.
Ketiga, pentingnya pengembangan mata pencaharian alternatif untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat, seperti pengolahan hasil perikanan menjadi abon dan nugget guna mengurangi kerugian saat panen melimpah, di tengah menurunnya produksi padi yang selama ini menjadi sumber pangan utama masyarakat.
Sementara isu keempat adalah penguatan regulasi dan kelembagaan desa, termasuk penyusunan peraturan desa terkait perlindungan kawasan dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Partisipasi masyarakat menjadi unsur penting dalam pelaksanaan program ini. Metode yang digunakan meliputi diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion), pemetaan wilayah, observasi lapangan, serta wawancara dengan tokoh masyarakat, pemuda, dan anggota SIBAT.
Kepala Desa Para Lando, Lemen Agustinus, mengapresiasi pelaksanaan program ELECTRA karena dinilai membantu masyarakat memahami ancaman sekaligus potensi desa secara lebih komprehensif.
“Selama ini kami belum memahami secara utuh ancaman dan potensi desa. Melalui program ini, masyarakat dilibatkan sejak awal hingga penyusunan kajian risiko. Kami berharap hasil kajian ini dapat menjadi rujukan dalam perencanaan pembangunan desa,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris PMI Kabupaten Manggarai, Yoseph Cetak, menegaskan bahwa program ELECTRA telah memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kapasitas masyarakat dalam penanggulangan bencana.
“Melalui studi ini, kita memahami kondisi riil masyarakat dari berbagai aspek, mulai dari lingkungan, sosial, ekonomi hingga budaya. Pendekatan NbS diharapkan mampu memberikan dampak positif tidak hanya dalam mitigasi bencana, tetapi juga mendukung keberlanjutan kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, tim PKSPL IPB memaparkan hasil identifikasi awal kepada PMI Kabupaten Manggarai selaku pelaksana program. Pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat berharap program tersebut dapat segera diimplementasikan dan diperluas ke wilayah pesisir lain yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana.
Bagi PKSPL IPB University, kolaborasi ini menjadi bagian dari kontribusi akademisi dalam mendukung pencapaian SDGs, khususnya SDG 13 tentang Aksi Iklim, SDG 14 tentang Kehidupan Bawah Air, dan SDG 15 tentang Kehidupan di Darat, tuturnya.
Pewarta : Siti Erwina Youwikijaya dan Adipatra Kenaro Wicaksana