Dok. foto Penulis : Ns Febriyanti, S.Kep
GEMARNEWS.COM, OPINI - Pendidikan Indonesia hari ini sedang menghadapi ironi besar. Di satu sisi, sekolah berlomba mengejar capaian akademik, digitalisasi, dan prestasi angka. Namun di sisi lain, persoalan karakter peserta didik justru semakin terlihat nyata.
Kasus perundungan, kekerasan di sekolah, rendahnya empati sosial, hingga menurunnya daya pikir kritis menjadi alarm bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil membentuk manusia secara utuh. Dalam situasi seperti ini, kurikulum berbasis karakter dan model pembelajaran yang humanis bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak bagi masa depan pendidikan Indonesia.
Masalahnya, sistem pendidikan selama bertahun-tahun terlalu fokus pada hasil akademik dan capaian administratif. Sekolah sering diukur dari angka kelulusan, ranking, atau banyaknya prestasi lomba, sementara pembangunan karakter hanya menjadi slogan yang ditempel di dinding kelas. Akibatnya, proses pembelajaran kehilangan ruhnya. Siswa belajar untuk menjawab soal, bukan memahami kehidupan.
Fenomena tersebut terlihat dari berbagai data pendidikan nasional. Hasil Rapor Pendidikan 2025 menunjukkan sekitar 35 persen siswa Indonesia masih belum mencapai kemampuan minimum literasi dan numerasi. Artinya, jutaan peserta didik belum mampu memahami teks sederhana sesuai tingkat kelas maupun menyelesaikan persoalan matematika dasar dalam kehidupan sehari-hari.
Data tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pendidikan Indonesia bukan hanya tentang akses sekolah, tetapi kualitas pembelajaran itu sendiri. Sistem belajar yang terlalu berorientasi hafalan membuat peserta didik sulit membangun kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan kontekstual. Siswa akhirnya terbiasa mengejar nilai tanpa benar-benar memahami makna pembelajaran.
Padahal, dunia hari ini membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat. Era digital menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding masa sebelumnya.
Persoalan mengenai budaya dan lingkungan sekolah ini juga menjadi refleksi penting dalam proses pembelajaran mata kuliah Konsep Manajemen Budaya dan Lingkungan Sekolah.
Melalui mata kuliah tersebut, penulis, Ns. Febriyanti, S.Kep, sebagai mahasiswa Program Magister Manajemen Pendidikan Universitas Pamulang, bersama Dr. Herdi Wisman Jaya, S.Pd., M.H. selaku dosen pengampu, diajak untuk melihat bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan capaian akademik, tetapi juga oleh budaya sekolah yang sehat, lingkungan belajar yang aman, serta relasi yang humanis antara guru dan peserta didik.
Peserta didik hidup di tengah banjir informasi, tekanan media sosial, budaya instan, hingga krisis empati akibat interaksi yang semakin dangkal. Ketika pendidikan gagal membangun karakter, sekolah hanya akan melahirkan generasi yang pintar secara teori tetapi rapuh secara mental dan sosial.
Persoalan ini semakin terlihat dari tingginya kasus kekerasan di lingkungan pendidikan. Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja menunjukkan 34,51 persen peserta didik berpotensi mengalami kekerasan seksual, sementara satu dari tiga anak usia 13 sampai 17 tahun pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan dalam hidup mereka. Bahkan Forum Serikat Guru Indonesia mencatat puluhan kasus kekerasan di satuan pendidikan hanya dalam kurun Januari sampai September 2024.
Data tersebut menunjukkan bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi peserta didik. Lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat bertumbuh justru kadang berubah menjadi ruang tekanan sosial. Dalam banyak kasus, peserta didik yang mengalami bullying atau kekerasan sering merasa tidak didengar.
Fenomena ini juga banyak muncul dalam diskusi masyarakat digital. Sejumlah pengalaman yang dibagikan pengguna internet memperlihatkan bagaimana trauma bullying di sekolah dapat bertahan hingga dewasa karena lemahnya perhatian terhadap pendidikan karakter dan kesehatan emosional siswa.
Dari sinilah pentingnya kurikulum berbasis karakter. Kurikulum tidak boleh hanya berisi target akademik, tetapi harus menjadi alat untuk membangun manusia yang utuh. Pendidikan karakter bukan sekadar mengajarkan sopan santun atau hafalan nilai moral, melainkan membentuk kemampuan peserta didik untuk memahami empati, tanggung jawab, kolaborasi, toleransi, hingga kemampuan mengelola emosi.
Namun, kurikulum karakter tidak akan berhasil jika model pembelajarannya masih berjalan satu arah. Selama guru hanya menjadi pusat informasi dan siswa hanya menjadi penerima materi, pendidikan akan tetap terasa kaku dan mekanis. Model pembelajaran perlu berubah menjadi lebih partisipatif, kontekstual, dan reflektif.
Pembelajaran berbasis diskusi, proyek sosial, kolaborasi kelompok, hingga studi kasus perlu diperkuat agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga belajar memahami realitas kehidupan. Pendidikan karakter tumbuh bukan dari ceramah panjang, melainkan dari pengalaman belajar yang membangun kesadaran sosial peserta didik.
Kurikulum Merdeka sebenarnya telah membuka ruang ke arah tersebut melalui pembelajaran berbasis projek dan penguatan Profil Pelajar Pancasila. Pendekatan ini menjadi langkah penting karena mulai menempatkan karakter sebagai bagian dari proses pembelajaran, bukan sekadar materi tambahan.
Hasil Tes Kemampuan Akademik 2025 bahkan menunjukkan adanya penguatan karakter sosial peserta didik, terutama dalam kemampuan memahami nilai sosial dan literasi berbasis kontekstual. Data nasional yang melibatkan lebih dari 3,4 juta peserta didik di 43 ribu sekolah menunjukkan adanya perkembangan positif pada aspek literasi sosial dan pemahaman nilai kebangsaan.
Meski demikian, tantangan terbesar pendidikan Indonesia bukan hanya menyusun kurikulum baru, tetapi memastikan implementasinya berjalan nyata di sekolah. Banyak sekolah masih terjebak pada budaya belajar yang terlalu administratif. Guru dibebani laporan, target dokumen, dan tekanan capaian angka sehingga proses pembelajaran kehilangan kreativitas.
Padahal, keberhasilan pendidikan karakter sangat bergantung pada ekosistem sekolah. Guru perlu menjadi teladan, sekolah perlu menjadi ruang aman, dan pembelajaran harus memberi ruang dialog bagi peserta didik. Pendidikan karakter tidak bisa dibangun dalam lingkungan yang penuh tekanan, kompetisi tidak sehat, dan komunikasi satu arah.
Selain itu, ketimpangan kualitas pendidikan antarwilayah juga menjadi tantangan serius. Indonesia memiliki lebih dari 64 juta peserta didik dengan kondisi sosial dan akses pendidikan yang sangat beragam. Karena itu, model pembelajaran berbasis karakter perlu disesuaikan dengan kebutuhan lokal dan realitas sosial peserta didik. Pendidikan di daerah perkotaan tentu memiliki tantangan berbeda dibanding wilayah pedesaan atau daerah 3T.
Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar soal mencetak lulusan yang mampu mengerjakan ujian. Pendidikan adalah proses membentuk manusia yang mampu hidup berdampingan, berpikir kritis, memiliki empati, dan siap menghadapi perubahan zaman.
Sekolah ibarat taman pertumbuhan manusia. Jika kurikulum hanya mengejar angka, maka sekolah akan menghasilkan generasi yang pandai menghafal tetapi kehilangan arah kehidupan. Namun jika pendidikan mampu menanamkan karakter melalui model pembelajaran yang manusiawi, maka sekolah tidak hanya melahirkan siswa berprestasi, tetapi juga manusia yang matang secara moral dan sosial.
Dalam konteks itulah, kurikulum berbasis karakter dan model pembelajaran yang adaptif menjadi fondasi penting bagi masa depan pendidikan Indonesia. Sebab bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh generasi yang cerdas, tetapi juga oleh generasi yang memiliki karakter kuat untuk menjaga kemanusiaan di tengah perubahan zaman.
Penulis : Ns Febriyanti, S.Kep