Notification

×

Panglima Aceh Ini Gugur Demi Tanah Air, Jasadnya Dibiarkan 3 Hari oleh Belanda

Sabtu, 16 Mei 2026 | 16.30 WIB Last Updated 2026-05-16T09:30:14Z
GEMARNEWS.COM, ACEH SELATAN – Hamparan sawah di Gampong Tinggi, Kecamatan Kluet Utara, menyimpan kisah perjuangan seorang pejuang Aceh yang namanya nyaris tenggelam dari ingatan sejarah. Sosok itu adalah Teuku Ali Usuf, panglima perang di wilayah Kluet Utara yang disebut gugur melawan kolonial Belanda sekitar tahun 1919.

Di tengah minimnya catatan tertulis, kisah perjuangan Teuku Ali Usuf masih hidup melalui cerita turun-temurun masyarakat dan keluarga keturunannya.

Menurut salah seorang keturunannya, Muhammad Hasbi, Teuku Ali Usuf diperkirakan lahir sekitar tahun 1884 dan meninggal dunia pada usia kurang lebih 35 tahun.

“Beliau meninggal sekitar usia 35 tahun. Beliau adalah kakek saya yang meninggal dunia demi mempertahankan tanah yang ia cintai,” ujar Muhammad Hasbi.
Dalam kisah yang diwariskan keluarga, Teuku Ali Usuf disebut merupakan bagian dari barisan perjuangan di bawah komando Teungku Cut Ali saat konflik melawan Belanda masih berlangsung di wilayah Kluet dan sekitarnya.

Ketangguhan serta kepiawaiannya di medan perang membuat dirinya dipercaya memimpin perlawanan di wilayah Kluet Utara. Namun, demi menjaga strategi perjuangan, Teuku Ali Usuf disebut lebih sering menyamar sebagai masyarakat biasa agar tidak mudah dikenali penjajah.

Perlawanan rakyat di wilayah Kluet kala itu berlangsung terorganisasi. Di Kluet Utara dipimpin oleh Teuku Ali Usuf, di Kluet Timur terdapat Panglima Rajo Lelo, sementara di Kluet Tengah perjuangan dipimpin Imam Sabil. Adapun wilayah Kluet Selatan menjadi basis perjuangan Teungku Cut Ali.

Gugur Saat Melawan Belanda
Muhammad Hasbi menuturkan, sekitar tahun 1919, ketika masyarakat dipaksa menjalani kerja rodi oleh pemerintah kolonial Belanda, Teuku Ali Usuf berada di tengah rakyat.
Saat pasukan Belanda datang, Teuku Ali Usuf dikisahkan tidak melarikan diri. Berbekal sebilah parang kecil, ia menghadapi situasi tersebut.

Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, seorang komandan Belanda disebut sempat menantang duel Teuku Ali Usuf. Pertarungan pun terjadi hingga akhirnya komandan tersebut berhasil dikalahkan.

Namun, situasi berubah kacau. Pasukan Belanda kemudian melepaskan tembakan yang mengenai tubuh Teuku Ali Usuf hingga gugur di lokasi kejadian.

“Beliau meninggal demi mempertahankan tanah yang ia cintai,” kata Muhammad Hasbi.
Tak berhenti di situ, kisah pilu turut menyelimuti kepergian sang panglima. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, jasadnya sempat dibiarkan selama tiga hari tiga malam.

Kala itu, Belanda disebut mengancam akan memburu keturunannya apabila terbukti Teuku Ali Usuf merupakan putra asli Gampong Tinggi.

Karena alasan keselamatan kampung, tokoh masyarakat bersama Geuchik Nyak Husen kala itu disebut mengambil keputusan berat dengan menyatakan bahwa Teuku Ali Usuf bukan berasal dari wilayah tersebut.

Barulah setelah kondisi dianggap aman, jasadnya dimakamkan di kawasan persawahan Gampong Tinggi.

Pedang yang Masih Disimpan
Muhammad Hasbi mengaku, hingga kini keluarga masih menyimpan sebuah pedang yang diyakini sebagai peninggalan Teuku Ali Usuf.

“Peninggalan beliau hanya pedang yang saya simpan untuk dikenang. Jika pemuda seperti kalian ingin mengetahui sejarah beliau, saya akan menunjukkan kisahnya serta pedang ini sebagai tandanya,” ujarnya.

Bagi keluarga, pedang tersebut bukan sekadar benda pusaka, melainkan simbol perjuangan seorang pejuang Aceh yang rela mengorbankan hidup demi tanah kelahirannya.
Sementara itu, Syahrul Amin, intelektual muda dari PMII Aceh, menilai kisah Teuku Ali Usuf penting dikenalkan kepada generasi muda agar sejarah perjuangan lokal tidak hilang ditelan zaman.

“Meski namanya tidak sepopuler Teungku Cut Ali atau Panglima Rajo Lelo, perjuangan Teuku Ali Usuf tidak kalah besar. Ia rela mengorbankan kehidupan pribadinya demi kemerdekaan,” ujarnya.

Menurut Muhammad Hasbi, Teuku Ali Usuf juga disebut memiliki nazar untuk menikah ketika Aceh telah merdeka. Namun, cita-cita itu tidak pernah terwujud karena dirinya gugur di medan perjuangan.

Kisah Teuku Ali Usuf menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan penjajahan tidak hanya lahir dari tokoh-tokoh besar yang tercatat di buku sejarah, tetapi juga dari para pejuang lokal yang jejaknya masih hidup dalam ingatan masyarakat. ( Syahrul Amin) 

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update