Notification

×

Menata Kembali Cinta di Awal Tahun Hijriyah 1448 H

Kamis, 18 Juni 2026 | 17.33 WIB Last Updated 2026-06-18T10:33:45Z


GEMARNEWS.COM, KUALA LUMPUR - Dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriyah 1448 H, Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah (PCIA) Malaysia menyelenggarakan Tabligh Akbar bertema “Wanita Muslimah, Untuk Siapakah Cintamu?” di Rumah Hamka (Ruhama), Kuala Lumpur pada Rabu (17/6/26).


Kegiatan ini menghadirkan penceramah asal Bandung, Jawa Barat, Ninih Muthmainah, yang mengajak para muslimah untuk melakukan refleksi mendalam tentang orientasi cinta dalam kehidupan.


Acara tersebut dihadiri lebih dari 50 peserta yang terdiri atas warga Aisyiyah dan jamaah dari berbagai kelompok pengajian di Kuala Lumpur dan sekitarnya. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan, menunjukkan tingginya semangat para muslimah dalam memperdalam ilmu agama serta memperkuat keimanan menjelang datangnya tahun baru Islam.


Kegiatan dibuka dengan sambutan Ketua PCIA Malaysia, Dini Oktarina Dwi Handayani, yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, narasumber, dan peserta yang telah mendukung terselenggaranya acara tersebut.


Dalam sambutannya, Dini juga menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas keberadaan Rumah Hamka (Ruhama) sebagai pusat kegiatan dan pembinaan warga Aisyiyah di Malaysia. Menurutnya, Ruhama diharapkan terus menjadi ruang yang produktif bagi para muslimah untuk belajar, berkembang, mempererat silaturahmi, serta mengoptimalkan potensi diri melalui berbagai program yang bermanfaat.


“Selamat datang di Rumah Hamka, rumah kebanggaan kita bersama. Semoga tempat ini terus menjadi pusat kegiatan, pembelajaran, dan pengembangan diri bagi ibu-ibu Aisyiyah di Malaysia,” ujarnya.


Pada kesempatan tersebut, Dini juga memperkenalkan sejumlah program pelatihan yang akan segera dilaksanakan serta mengajak seluruh anggota untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan yang telah disiapkan. 


Ia menegaskan bahwa Aisyiyah bukan hanya wadah pengajian, melainkan juga sarana pemberdayaan perempuan agar terus belajar, berkarya, dan memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, serta umat.


Suasana semakin hangat dengan penampilan nasyid dari ibu-ibu Aisyiyah yang turut menghibur para peserta. Penampilan tersebut menjadi sarana dakwah yang menyentuh hati sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah di antara jamaah yang hadir.




Dalam tausiyahnya, Ninih Muthmainah mengajak para peserta untuk melakukan muhasabah diri dengan mengajukan pertanyaan mendasar, “Untuk siapakah cinta terbesar yang selama ini kita simpan dalam hati?”


Menurutnya, tidak sedikit manusia yang mencurahkan perhatian dan cintanya kepada pasangan, anak-anak, keluarga, pekerjaan, maupun harta benda. Padahal seluruh hal tersebut bersifat sementara dan tidak kekal. Karena itu, seorang muslim perlu memastikan bahwa cinta tertinggi dalam hidupnya tetap tertuju kepada Allah SWT.


Kajian tersebut merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah At-Taubah ayat 24 yang mengingatkan agar kecintaan kepada keluarga, harta, maupun berbagai urusan dunia tidak melebihi kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.


Ninih menjelaskan bahwa ayat tersebut bukanlah larangan untuk mencintai keluarga, pasangan, anak-anak, ataupun harta benda. Sebaliknya, Islam mengajarkan agar seluruh bentuk cinta itu ditempatkan secara proporsional dan tidak menggeser posisi cinta kepada Allah SWT sebagai yang utama.


“Ketika terjadi pertentangan antara kepentingan dunia dan perintah Allah, maka seorang mukmin akan mendahulukan apa yang dicintai Allah SWT,” jelasnya.


Lebih lanjut, ia memaparkan beberapa tanda seseorang memiliki cinta yang kuat kepada Allah SWT, antara lain:


Hatinya bergetar ketika nama Allah disebut.

Gemar membaca, mendengarkan, dan mentadabburi Al-Qur’an.

Menikmati waktu-waktu beribadah, berdoa, dan berdzikir kepada Allah.

Berusaha menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

Senantiasa merindukan kedekatan dengan Allah dalam setiap aspek kehidupan.


Melalui kajian tersebut, para peserta diajak untuk menata kembali orientasi cinta dalam kehidupan. Cinta kepada keluarga, pasangan, anak-anak, maupun harta benda hendaknya menjadi sarana yang mengantarkan seseorang kepada cinta yang lebih besar, yakni cinta kepada Allah SWT. Dengan demikian, seluruh aktivitas kehidupan dapat bernilai ibadah dan menjadi jalan untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya.


Tabligh Akbar Tahun Baru Hijriyah 1448 H ini diharapkan menjadi momentum bagi para muslimah untuk memperkuat keimanan, memperbaiki kualitas diri, serta meningkatkan kecintaan kepada Allah SWT. Semangat hijrah yang terkandung dalam pergantian tahun Islam menjadi pengingat untuk terus bergerak menuju kehidupan yang lebih baik, lebih bermakna, dan lebih diridhai Allah SWT.


Sebagaimana pesan yang mengemuka dalam kajian tersebut, ketika cinta kepada Allah ditempatkan sebagai yang utama, maka seluruh bentuk cinta lainnya akan menemukan tempat yang tepat.


“Ketika cinta kepada Allah menjadi yang utama, maka cinta kepada keluarga, pasangan, anak-anak, dan sesama akan menemukan tempat yang tepat.”


Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah setiap hamba-Nya dalam menata hati, memperkuat keimanan, serta menumbuhkan cinta yang sejati kepada-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.(*)



[Reporter: Soleh]

 

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update