GEMARNEWS.COM,ACEH BESAR — Ketua MPW Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Aceh, Dr. Taqwaddin, menegaskan ICMI harus mampu menjadi kekuatan intelektual sekaligus tumpuan masyarakat dalam mendorong kemajuan Aceh di berbagai bidang.
Hal tersebut disampaikan Taqwaddin dalam sambutannya pada acara Pelantikan Pengurus Organisasi Daerah (Orda) ICMI Aceh Besar Periode 2026–2031 di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Mujimulia, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Taqwaddin, ICMI merupakan wadah yang menghimpun para cendekiawan serta berbagai elemen masyarakat yang memiliki kapasitas keilmuan, pengalaman, profesionalitas dan kepedulian terhadap pembangunan daerah.
“Orang-orang ICMI adalah cendekia. Di dalamnya berhimpun para tokoh dan ahli dalam berbagai bidang keilmuan, praktisi profesional, para ulama, aktivis dan para pemuda,” ujarnya.
Ia menegaskan, keberadaan ICMI tidak boleh hanya menjadi tempat berhimpunnya kalangan intelektual. Kapasitas dan kepakaran para anggotanya harus diterjemahkan menjadi gagasan, solusi dan program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kita diharap menjadi tumpuan yang dapat menggerakkan kemajuan dalam berbagai bidang,” tegasnya.
Empat Karakter Pemimpin Aceh
Dalam kesempatan tersebut, Taqwaddin juga menguraikan empat karakter yang menurutnya penting dimiliki oleh tokoh maupun pemimpin Aceh. Ia merangkumnya melalui filosofi lokal Aceh, yakni tuha, tuho, teupeu dan teupat.
Pertama, tuha, yang bermakna matang dalam usia dan pengalaman. Menurutnya, kematangan seseorang penting dalam menghadapi persoalan masyarakat. Ia menyebut usia di atas 40 tahun sebagai salah satu gambaran kematangan yang diharapkan telah dibarengi pengalaman hidup dan sosial.
Kedua, tuho, yakni mengetahui arah yang hendak dituju. Seorang pemimpin harus memiliki visi dan memahami tujuan yang ingin dicapai sehingga mampu membawa masyarakat menuju arah yang jelas.
Ketiga, teupeu, yaitu memiliki pengetahuan yang luas. Seorang pemimpin tidak harus menguasai seluruh bidang secara mendalam, tetapi harus memiliki wawasan yang cukup untuk memahami berbagai persoalan dan mampu berkomunikasi dengan banyak kalangan.
Keempat, teupat, yakni tepat dalam bersikap dan bertindak. Karakter tersebut mencakup kejujuran, kepatuhan terhadap aturan, kepatutan, kearifan serta kemampuan menjaga integritas.
Menurut Taqwaddin, keempat karakter tersebut menjadi modal penting bagi siapa pun yang ingin mengambil bagian dalam pembangunan Aceh.
“Kepemimpinan membutuhkan kematangan, arah yang jelas, wawasan luas dan integritas,” demikian pesan yang ditekankannya.
ICMI Aceh Besar Diminta Jadi Penyangga Kemajuan Aceh
Taqwaddin juga memberikan perhatian khusus kepada kepengurusan ICMI Orda Aceh Besar yang baru dilantik.
Ia berharap ICMI Aceh Besar dapat mengambil peran strategis dalam pembangunan daerah dan menjadi salah satu kekuatan intelektual yang mampu melahirkan gagasan untuk menjawab berbagai tantangan masyarakat.
“ICMI Orda Aceh Besar saya rasa seperti Orwil. Jadi, ICMI Aceh Besar ini harus hebat. Bersama Orda Banda Aceh, Sabang dan daerah lainnya menjadi penyangga yang kuat untuk kemajuan Aceh,” katanya.
Ia mendorong pengurus periode 2026–2031 untuk bekerja secara sungguh-sungguh, membangun kolaborasi dengan pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, organisasi masyarakat serta berbagai elemen lainnya.
Menurutnya, kekuatan ICMI terletak pada kemampuan anggotanya dalam menggabungkan ilmu pengetahuan, pengalaman, nilai keislaman dan kepedulian sosial untuk menghasilkan solusi bagi masyarakat.
Taqwaddin kemudian menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh pengurus ICMI Orda Aceh Besar yang baru dilantik.
“Selamat bekerja para pengurus ICMI Orda Aceh Besar. Semoga Aceh Besar jaya dan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat,” pungkasnya.
Pelantikan tersebut diharapkan menjadi awal penguatan peran ICMI Aceh Besar sebagai organisasi cendekiawan yang tidak hanya aktif dalam forum intelektual, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Aceh. tuturnya.