Notification

×

Iklan

Iklan

Jelang Tiga Tahun Akmal-Muslizar Menjabat Bupati/Wakil Bupati Abdya, Kepemimpinannya Dinilai Masih Eksperimen

Sabtu, 20 Juni 2020 | 20.29 WIB Last Updated 2020-06-20T13:29:20Z
Dok.Foto Abdul Janan, Ketua SEMA STIT Muhammadiyah Abdya Dan Leo Agustiar, Wakil DEMA STIT Muhammadiyah Abdya

GEMARNEWS.COM - BLANGPIDIE Pelantikan Akmal Ibrahim SH dan Muslizar MT menjadi Bupati dan Wakil Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) periode 2017-2022 yang berlangsung di Aula Gedung  DPRK Abdya pada 14 Agustus 2017 lalu.

Selama tiga tahun Akmal - Muslizar menahkodai kepemimpinan Kabupaten Abdya, mahasiswa menilai kepemimpinannya itu terkesan hanya bereksperimen.

"Bukti kepemimpinan mereka eksperimen karna program yang hadir itu tidak didukung dengan rencana dan kesiapan sistem yang matang dan berkelanjutan," ungkap Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) STIT Muhammadiyah Abdya, Abdul Janan, Sabtu (20/6/2020).

Menurut Abdul, hal tersebut terlihat dari sejumlah program visi dan misi dari pasangan bupati dan wakil bupati ini belum dapat berjalan sebagai mana selogannya yaitu "Mengembalikan Harapan Rakyat".

"Sebagian program Pemdakab Abdya dibawah kepemimpinan Akmal dan Muslizar terancam gagal dalam mewujudkan semua janji politik yang tertuang dalam program visi-misinya hingga memasuki akhir masa jabatan," ujarnya.

Kemudian ia juga menambahkan, pasalnya dari sejumlah program prorakyat yang diikrarkan tersebut hampir tidak terukur pencapaiannya, seperti Bank Gala, Program pemanfaatan gunung dan laut, peningkatan mutu pendidikan, santunan kematian diterima tiga hari setelah meninggal.

Selanjutnya, menurut Ketua SEMA tersebut Akmal-Muslizar dalam menjalankan program pembangunan cenderung tidak berbasis prioritas masalah, sehingga dari apa yang ingin dicapai untuk pembangunan Abdya, terkesan hanya untuk kepentingan individu dan kelompok tertentu saja.

"Hal itu juga mengundang kegaduhan dan stabilitas politik dikabupaten berslogan Breh Sigupai ini, seperti salah satu contoh Akmal - Muslizar ingin menjadikan Abdya sebagai pusat produksi telur, keinginan tersebut tidak didukung dengan langkah-langkah kongkrit, dan kita takutkan program ini hanya menjadi ekperimen saja," kata Abdul.

Sementara menurut Abdul, banyak program-program lain yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, seperti peternakan ayam atau manoek KUB, sektor perikanan budidaya udang, sehingga program tersebut tidak menguntungkan masyarakat secara umum.

"Saya rasa kehadiran kedua putra terbaik Abdya saat ini pak Akmal dan Muslizar sebagai pemimpin belum berhasil melakukan perubahan dan menjadi pelopor harapan rakyat Abdya, kepemimpinan kabupaten ini berjalan seperti Auto pilot," sebutnya.

Hal serupa juga disampaikan Wakil Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STIT Muhammadiyah Abdya, Leo Agustiar mengatakan, Akmal dan Muslizar dalam menjalankan dan mewujudkan program visi–misinya tidak berkelanjutan, sehingga tidak ada dampak apapun kepada masyarakat.

"Bahkan hasil pencapaian yang diperoleh oleh masyarakat tidak dirasakan secara nyata, program pembangunan yang dilaksanakan tidak sesuai dengan basis dan kebutuhan masyarakat," ucap Leo

Menurut Leo, menjelang tiga tahun masa kepemimpinan Akmal - Muslizar masyarakat masih jauh dari kesejahteraan seperti yang dijanjikan dalam visi-misi. 

"Sebagai mahasiswa kami juga menilai bahwa rencana dan pelaksanaan program bupati dan wakil bupati hanya menguntungkan sekelompok pemilik modal saja," tutup Leo.(Teuku Rahmat )
×
Berita Terbaru Update