Notification

×

Iklan

Iklan

Senator Fachrul Razi Jadi Pembicara Integritas MoU Helsinki dan Nasib Bangsa Aceh

Sabtu, 15 Agustus 2020 | 21.30 WIB Last Updated 2020-08-15T14:43:19Z
Dok.Foto, Senator Fachrul Razi saat jadi pembicara pada kegiatan refleksi 15 tahun MoU Helsinki antara RI dan GAM yang diselenggarakan APA Jakarta.

GEMARNEWS.COM, JAKARTA - Senator Fachrul Razi, MIP jadi pembicara pada acara Refleksi 15 Tahun MoU Helsinki antara RI dan GAM dengan tema 'Mempertanyakan Integritas MOU Helsinki dan Nasib Re-generasi Aceh di Masa Mendatang'.

Acara refleksi tersebut di selenggarakan oleh Aliansi Pemuda Aceh (APA) Jakarta dan di ikuti oleh publik, baik dari lokal maupun nasional, dan dilaksanakan secara daring via aplikasi Zoom Meeting.

Senator Fachrul Razi dalam paparan materinya mengatakan bahwa refleksi ini sangat penting untuk kita peringati setiap tahunnya, namun tidak kalah pentingnya juga harus mengevaluasi kembali kesepakatan damai yang sudah berjalan selama 15 tahun.

"Kita ketahui bahwa, MoU Helsinki lahir karena adanya kesepakatan dua belah pihak antara pemerintah RI dengan GAM, hasil runding tersebut untuk melihat Aceh dalam jangka pendek dan jangka panjang. Pasalnya dalam kalimat Understanding terkandung kalimat yang sangat kuat untuk Aceh maju, namun faktanya hari kita kita melihat Aceh hanya sebagai agen/aktor penerus pusat dalam melihat perspektif lokal," ujar senator asal Aceh, Sabtu (15/8/2020).


Ia juga menambahkan, sejak 15 tahun damai Aceh belum semuanya merasakan dari apa yang telah diputuskan dalam runding MoU Helsinki, Finlandia. Perdamaian yang terjadi di Aceh saat ini hanya untuk kalangan elit saja, dengan kata lain perdamaian yang diberikan untuk Aceh hanya sebagai potret pemulihan situasi saja, bukan bermartabat.

"Tidak luput kita juga memperhatikan power pusat yang selalu menekan dan mendekte pemerintah Aceh dalam berbagai perspektif sudut pandang, maka tidak heran jika Aceh alan terus begini begini saja jika UUPA tidak di revisi sebagaimana kehendak MoU Helsinki," ujarnya.

Fachrul menambahkan, merujuk pada poin atau butir MoU Helsinki perdamaian yang dimaksud adalah perdamaian yang bermartabat kedua belak pihak dan rasa saling percaya (Tranbuilding) agar semua pihak dapat merasakan perdamaian yang hakiki.

'Tapi sayang seribu kali sayang rasa itu tidak terbentuk bahkan pemerintah Aceh sendiri hari ini tidak melaksanakan tugasnya sebagaimana amanah UUPA," tambahnya.

Bahkan Fachrul menyampaikan, jangan heran jika UUPA lemah dan tidak terealisasi dengan baik, karena semua ini tergantung pada pemimpin Aceh saat ini. 

"Oleh karena itu, demi Aceh yang lebih baik semua kita pemerintahan Aceh dan perwakilan Aceh di Senayan serta semua tokoh pemersatu bangsa duduk untuk melihat dan memikirkan Aceh jangka panjang, hilangkan semua kepentingan dan ego, satukan pikiran untuk mensejahterakan rakyat Aceh serta melahirkan marwah Bangsa yang Berdaulat," tutur Fachrul Razi.

Selain Fachrul Razi, juga tampak pembicara lain Anggota DPR RI dapil Aceh, M. Nasir Djamil Muhammad Nazar, S.AG (Wagub Aceh 2007-2012/Aktivis Sira), Nezar Patria (Pemimpin Redaksi The Jakarta Post) dan Husnul Jamil (Aktivis Muda Milenial Aceh).

Liputan : MN
Editor : TR
×
Berita Terbaru Update