Notification

×

Iklan

Iklan

Mengapa ada hari Pantang Melaut pada setiap 26 Desember?

Sabtu, 26 Desember 2020 | 23.51 WIB Last Updated 2021-05-19T08:20:04Z
Mengapa ada hari Pantang Melaut pada setiap 26 Desember?
OPINI 


Dok.foto Penulis Teuku Muttaqin Mansur


Hotel Daka, Lamprit, Banda Aceh menjadi tempat dicetuskan kesepakatan penetapan hari pantang laot setiap 26 Desember setiap tahunnya. Kesepakatan ini diputuskan pada 9 Desember 2005 dalam pertemuan renstra Panglima Laot se Aceh 2005 sd 2015. Hadir dalam pertemuany tersebut seluruh Ketua dan Sekretaris Panglima Laot Kabupaten Se Aceh, Dewan Pembina Panglima Laot Aceh, Sekjen Panglima Laot Dr. M. Muhammad Adli Abdullah Bawarith kala itu. 

Acara juga tokoh  nasional Bapak Mustafa Abubakar, Bapak Sarwono Kusumaatmadja, Bapak Ismid Hadad, Bapak Prof Humam Hamid, Bang Murizal Hamzah, dan banyak lagi turut menghadiri acara.

Alhamdulillah, saya dipercayakan sebagai Ketua Panitia acara oleh Pak H T Bustamam (Ayah Cek) selaku ketua Panglima Laot Aceh dan Pak Adli selaku Sekjen Panglima Laot dalam momen penting tersebut.

Yang menjadi fasilitator renstra adalah Bang Ramadhana Lubis, TAF Haikal, Om Inyok, dibantu Dr Sulaiman Tripa.

Sejak ditetapkan tanggal 9 Desember 2005, maka mulailah berlaku dan mulai efektif dijalankan pasa 26 Desember 2005, saat peringatan tsunami pertama dilaksanakan. 

Sebelum penetapan, kami (Panitia, Pak Dr Adli, Saya, Dr Sulaiman) menjadi tim yang menggagas ide tersebut. Kami berdiskusi panjang, bahwa penting ditetapkan hari pantang melaut pada setiap 26 Desember. 

Berikut beberapa alasan yang menjadi dasar penetapan:
1. Korban tsunami terbanyak (baik jiwa maupun fisik) adalah nelayan.
2. Perlu diinformasikan dan menjadi ingatan kepada generasi penerus bahwa setiap tanggal 26 Desember pernah terjadi peristiwa besar tsunami yang korban terbanyak adalah nelayan.
3. Bahwa penetapan hari tersebut juga bagian dari mitigasi bencana ingatan dan pewarisan bahwa selalu harus waspada jika bencana bisa datang kapan saja.
4. Tentu juga penting bagi keberlansungan lingkungan laut.

Alhamdulillah, 26 Desember,  16 tahun yang lalu (meskipun sedikit),  kami bersama panglima laot dan nelayan Se-Aceh telah berupaya mewariskan pemikiran dan pengetahuan sebagai wujud ingatan kita, anak cucuk kita agar peristiwa tsunami tersebut tetap dikenang dan dijadikan sebagai pelajaran bagi kita yang masih hidup, bahwa Allah adalah Maha Kuasa atas segalanya.

Mengenang peristiwa Tsunami, maka saya selalu terkenang bagaimana dulu lari dari air bah laut itu, dan selamat. Kemudian bangkit bersama, bersama nelayan dan panglima laot, bersama semuanya. 

Mari kita jadikan peristiwa tsunami sebagai iktibar, dan kita songsong hari esok lebih baik dari hari kemarin dan hari ini. 

Allahummaghfirlahu kepada Ayahnda Teuku Haji Mansur bin Muda Gade, salah seorang yang syahid dalam peristiwa tsunami 16 tahun  lalu.

Allahummaghfirlahum untuk seluruh korban yang meninggal dunia dalam peristiwa maha dahsyat itu.

#26 Desember 2004 - 26 Desember 2020.
Mns. Mulieng, Beuracan Meureudu, 25 Desember 2019. Pukul 22:39.

Penulis :
Teuku Muttaqin Mansur
#Mengenang16TahunTsunamiAceh
×
Berita Terbaru Update