Notification

×

Iklan ok

Agama (Kristen) dan Hablunminannas

Jumat, 29 Oktober 2021 | 08.55 WIB Last Updated 2021-10-29T02:00:05Z


Oleh : Nurul Aini

Mahasiswa Sosiologi Agama  Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh.


Gemarnews.com, Opini Mahasiswa - Sebagai salah satu mahasiswa sosiologi agama Uin Ar-Raniry Banda Aceh, saya senang sekali mengikuti kegiatan workshop tentang moderasi beragama yang diadakan oleh LABPSA (Laboratorium Pengembangan Sosial Keagamaan). Dalam acara tersebut di hadiri oleh pendeta Rida dari Gereja Katolik Jawi Wetan (GKJW) dan Pendeta Palti dari HKBP.


Dalam menabur benih-benih kedamaian dengan kampanye moderasi beragama, juga di hadiri oleh beberapa anak muda lintas agama, yang berasal dari 4 daerah, yaitu Banda Aceh, Takengon, Aceh Tenggara, Dengan tujuan antar umat beragama saling berbaur satu dengan lainnya.


Pendeta Rida dalam workshop tersebut menyampaikan bahwa memang membahas tentang isu berbasis agama ini tidak akan ada habis nya, karena akan ada orang-orang yang tidak mau akan perbedaan. Sebagai mana Islam, yang sangat menganjurkan umat nya untuk selalu menjaga ukhuwah Islamiah dan Insaniyah, yang tercantum di banyak ayat di Al-Qur'an dan Hadits. 


Kristen sebagai agama yang benar menurut penganut nya, juga terdapat ayat-ayat untuk menjaga kedamaian. Seperti yang tercantum sebagai dasar dalam umat Nasrani untuk bertoleransi, dari Mazmur 133 ayat 1, "Sungguh alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun. Artinya ini adalah sebuah panggilan bahwa kita dengan siapapun, harapannya, hidup di kota, di desa atau hidup di daerah mana pun kita bisa menciptakan suasana yang rukun. Ini juga merupakan dasar bagi orang Kristen untuk senantiasa hidup rukun dan mengupayakan kerukunan.


Lanjut, Petrus 3 ayat 9, jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki, tetapi sebaliknya hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Ini ayat yang seringkali dikutip, jadi jangan balas kejahatan dengan kejahatan. Kita sebagai manusia istilahnya kalau Kekristenan itu, orang yang selalu misalkan dianiaya, maka kita pun juga diberi budi pekerti, diberi pikiran, bagaimana untuk menciptakan kedamaian. Roma 12 ayat 17-18, jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, lakukanlah yang baik, bagi semua orang, sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.


Jadi antara Islam dan Kristen sama-sama menabur benih-benih ke damaian, agama lain seperti Hindu Budha juga melakukan hal yang sama. Namun pertanyaannya adalah mengapa kalau berbicara masalah kekerasan berbasis agama selalu berkaitan dengan Islam?. Dalam workshop itu Pendeta Rida dan Pendeta Palti juga menjelaskan bahwa memang umumnya ketika kita berbicara masalah teroris, bom bunuh diri dan sebagainya selalu dikaitkan ke Islam. Di Islam konflik intra dan antar umat beragama terjadi, penyebabnya adalah karena perbedaan paham di Islam langsung di respon dengan aksi. 


Sedangkan di Kristen bukan tidak ada aksi radikalisme di dalam agama, banyak. Di Kristen sama juga seperti di Islam, banyak pergemulan, paham, mazhab-mazhab. Di Kristen belajar dari sejarah akhirnya sikap radikalisme itu hanya di pemahaman, hanya di internum tidak di eksternum. Saya yang benar yang lain salah, tapi di pemahaman, di tindakan, di aksi sangat jarang terlihat implementasinya. Intinya disetiap agama ada radikalisme. 


Kemudian gereja-gereja bukan hanya namanya berbeda, tapi juga ada perbedaan ideologinya, perbedaan dogma, ada perbedaan di organisasinya, banyak hal yang membuat gereja-gereja dan sampai sekarang, kita tidak tahu berapa jumlah gereja-gereja yang berbeda ini di dunia, sanga-sangat banyak. Kalau pernah kita dengar tapi juga perlu diklarifikasi sampai katanya ada 40.000, denominasi gereja. Sama seperti di Islam, aliran di kristen  banyak, sangat banyak, ada karena organisasinya, karena penginjil nya, misionarisnya, banyak sekali yang membuat berbeda.


LABPSA dalam workshop ini berkolaborasi dengan Pendeta Ridha serta pendeta Palti mengajak kepada warga bahwa hidup bertoleransi itu tidak menjadikan kemudian iman kita goyah. Tapi justru disitulah Oh kira-kira imanku ternyata ini, bahwa oh pemahaman ku disini. Kenapa ada HKBP, kenapa ada GKJW,  jangankan 40.000 denominasi, di Jombang itu kota kecil sebenarnya, itu ada kurang lebih 90 gereja dengan denominasi sekitar 4-5 denominasi, itu di Jombang saja. Belum lagi dari Gereja lainnya. Memang dari segi aturan organisasi kita sedikit banyak berbeda teritorialnya, antara misalnya HKBP dengan GKJW, tata dalam beribadah itu kita sedikit banyak ada step-step yang sedikit berbeda.


Tapi juga meskipun sedikit berbeda ada yang menyatukan antara HKBP dan GKJW yang menyatukan antara keduanya. Istilah yang kedua Gereja itu pegang teguh kalau dibaptis itu, masih sama menyebutnya, dalam nama Allah bapa putra roh kudus. Kemudian nyanyiannya  itu di antara HKBP dan GKJW juga sama. Jadi intinya meskipun berbeda-beda, tetapi juga ada persamaan-persamaan gereja yang umum di manapun berada, sama. Paham yang selalu di anut oleh agama Kristen adalah walaupun kita terdapat perbedaan dalam paham, tetapi kita ini satu tubuh di dalam Kristus, 


Jadi sama seperti di Islam, anggota tubuh Kristen ini ada yang GKJW ada yang HKBP, ada yang GPIB, dan sebagainya. Kira-kira sama seperti muslim sendri, ada Muhammadiyah, ada NU, ada Ahmadiyah, dan sebagainya. 


Menurut hemat penulis sebagai seorang muslim, bahwa walaupun berbeda paham, Mazhab dengan sesama umat beragama dan berbeda keyakinan dengan agama lainnya, tidak perlu melakukan kekerasan, tidak perlu ada diskriminasi, karena tidak ada gunanya. Hidup damai adalah keharusan untuk setiap manusia yang ada di muka bumi. Islam sebagai rahmatan Lil Al-Amin ada bukan hanya untuk umat Islam, bukan hanya untuk yang bermazhab Syafi'i misalnya, tetapi untuk semua manusia. Didalam agama, bukan hanya hubungan antar makhluk dengan Tuhan yang perlu di jaga, tetapi hablunminannas juga penting, sangat penting.


Mari kita ciptakan suasana yang kondusif, jangan jadi orang eksposif. Dalam kesempatan tertentu pandangan gereja, bahwa keselamatan itu milik semua orang. Hal ini untuk mengklarifikasi yang pernah terjadi dalam sejarah keagamaan. Rahmat taala itu milik semua orang, tergantung dari keyakinan kita. Manusia diciptakan Allah, dan menjamin kesejahteraan bagi setiap orang. 


Selalu tanamkan di diri kita, jika aku dan kamu tidak bersaudara dalam agama, kamu adalah saudara ku sesama manusia.


Mengikuti workshop LABPSA ini dengan menghadirkan Pendeta membuat wawasan kita tentang agama, lebih luas. Stigma yang melekat di diri kita sebagai orang muslim yang menganggap bahwa "hanya" Islam agama yang damai, ternyata salah besar. Buktinya seperti yang di sampaikan Pendeta Rida bahwa semua agama sangat menentang keras kekerasan, dan sangat menganjurkan kedamaian. (*)

×
Berita Terbaru Update