Notification

×

Iklan

Waspada, Pembelian Bus dan Mobil oleh Dinas Pendidikan Aceh hanya Akal Bulus !

Minggu, 13 Februari 2022 | 00.14 WIB Last Updated 2022-02-12T17:14:48Z

Dok Foto, Sekjend Forum LSM Aceh, Sudirman Hasan, Foto : Istimewa.


Gemarnews.com, Banda Aceh – Alokasi anggaran pembelian bus dan mobil oleh Dinas Pendidikan Aceh yang mencapai Rp 12 miliar, menurut Sekjen Forum LSM Aceh Sudirman Hasan, merupakan sebuah  langkah pemborosan yang  luar biasa.  Ia pun menilai, pembelian itu hanya akal bulus demi menghabiskan anggaran daerah. Padahal manfaat dan penggunaannya tidak akan efektif.

“Jelas itu hanya pemborosan. Bayangkan, mereka akan membeli satu unit bus seharga Rp 2,6 miliar. Dengan biaya seperti itu  bisa membeli satu unit scania double decker. Lantas, untuk apa Dinas Pendidikan butuh bus semewah itu. Apakah akan mereka pakai setiap hari?” ujar Sudirman Hasan dalam keterangannya tertulisnua yang diterima oleh Gemarnews.com pada Minggu (13/02/22). 

Selain itu, Sudirman Hasan juga menyorot rencana pembelian mobil operional dinas  seharga lebih dari Rp  527 juta. Untuk dana sebesar itu, tambahnya, bisa membeli mobil Fortuner atau Pajero terbaru keluaran tahun 2022.  

“Untuk apa mereka beli mobil semewah untuk operasional. Apakah mereka tidak bisa memanfaatkan mobil yang  sudah ada selama ini?” katanya lagi. 

Karuan, ulah Dinas Pendidikan Aceh yang menghamburkan uang ini, jelas kami Forum LSM Aceh, curiga ada sesuatu dibalik aksi pembelian itu. Ia menilai, bisa jadi pembelian itu hanya trik untuk mendapatkan keuntungan bagi oknum tertentu.  Bagi oknum itu,  yang penting uang biasa dibelanjakan, sedangkan manfaat barang yang dibeli  tidak pernah dipikirkan.

Sama seperti suara kritis lainnya, Forum LSM Aceh meminta Gubernur Aceh seharusnya membatalkan pembelian bus dan mobil itu. Kalau hanya dipakai sesekali saja, sebaiknya Dinas Pendidikan memanfaatkan sejumlah bus yang sudah dimiliki Pemerintah Aceh selama ini. Tidak perlu membeli bus sekelas Scania atau mobil operasional mahal sekelas Fortuner atau Pajero. 

Sudirman Hasan  mengingatkan lagi, bahwa BPS belum lama ini sudah mengumumkan  ke public kalau Aceh masih tetap menduduki posisi sebagai salah satu provinsi termiskin  di Indonesia.  Tingkat kemiskinan Aceh  juga meningkat dari tahun tahun sebelumnya.  

Selama kepemimpinan Gubernur sebelumya, ada kecenderungan tingkat kemiskinan di Aceh menurun dari tahun ke tahun. Tapi di era Nova Iriansyah sebagai Gubernur, kemiskinan di Aceh justru meningkat dari 15,32 persen menjadi 15,53 persen. Padahal anggaran pembangunan lebih banyak. Tak heran jika Sudirman Hasan menilai Nova adalah Gubernur Aceh yang  gagal. Ia tidak hanya gagal dalam mencapai visi misi program, tapi juga gagal membuat perubahan ke arah yang lebih baik.

Ironisnya lagi, tambah Sudirman Hasan, gagalnya program pembangunan di Aceh diwarnai pula menurunnya kualitas pendidikan di daerah ini. Bahkan disebut-sebut kualitas  pendidikan Aceh terendah di tingkat nasional.  Tapi soal anggaran, pendidikan Aceh justru mendapat alokasi anggaran tiga besar di tingkat nasional. Hanya kalah dibanding DKI Jakarta dan Jawa Timur. 

Fakta ini menunjukkan kalau anggaran pendidikan Aceh yang sangat besar itu  tidak dialokasikan degan baik. Dana itu lebih banyak digunakan untuk kegiatan yang tidak terkait mendukung kemajuan pendidikan daerah ini.  

Kasus pembelian bus dan mobil mewah ini menjadi buktinya. “Kalau bus ini jadi dibeli, saya yakin akan lebih banyak  teronggok di belakang kantor  Gubernur ketimbang digunakan untuk pendidikan. Makanya rakyat Aceh jangan mau dibodoh-bodohi dengaan program seperti itu. Rakyat harus menolak rencana pemborosan itu,” katanya.

Sudirman Hasan berjanji akan menggalang kekuatan bersama masyarakat sipil Aceh untuk melakukan aksi protes ke kntor Gubernur manakala pembelian bus dan mobil itu tetap dilakukan. (*)

×
Berita Terbaru Update