Notification

×

Iklan

Hindari Kelahiran Anak Talasemia dengan Skrining Darah

Selasa, 01 Maret 2022 | 14.45 WIB Last Updated 2022-03-01T07:45:59Z

Dr. Eka Destianti saat menjadi pembicara di Talkshow Thalassemia dan Kebutuhan Darah di halaman Kantor PMI Kota Banda Aceh.

Gemarnews.com, Banda Aceh - Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Banda Aceh bekerja sama dengan Abbott dan Yayasan Darah Untuk Aceh menggelar talkshow Talasemia dan Kebutuhan Transfusi Darah di halaman Kantor PMI Kota Banda Aceh pada Selasa pagi, 1 Februari 2022.

Dokter spesialis anak Dr. Eka Destianti, Sp.A(K), MKed (Ped) yang menjadi narasumber dalam talkshow tersebut mengatakan, masyarakat sebaiknya melakukan skrining darah untuk mengetahui apakah membawa sifat talasemia atau tidak. Ia sangat menganjurkan anak-anak muda yang ingin menikah untuk skrining darah terlebih dahulu.

"Dari hasil skrining nanti kita bisa lebih sadar untuk mengambil keputusan. Secara ilmu pengetahuan kalau kedua pasangan sama-sama membawa sifat talasemia, kemungkinan anak bisa lahir normal sebesar 25%, kemungkinan anak kena talasemia25%, dan kemungkinan sebagai pembawa sifat 50%," kata Dr. Eka kepada peserta talkshow.

Para pegiat talasemia, lanjut Dr. Eka, punya mimpi pada tahun 2035 nanti tidak ada lagi kelahiran anak dengan talasemia di Aceh. Untuk mewujudkan mimpi itu dibutuhkan kesadaran masyarakat dan partisipasi banyak pihak, terutama generasi muda yang belum menikah untuk melakukan skrining.

Ketika seseorang mengetahui kondisinya sebagai pembawa sifat, ia bisa membicarakan masa depan dengan pasangannya secara matang. Kesadaran ini diharapkan dapat menurunkan tingkat kelahiran anak dengan talasemia.

"Yang paling penting itu skrining dulu, setelah itu kita pelan-pelan sampai akhirnya bisa rendahkan, yaitu nol kelahiran talasemia," tuturnya.

Pada 2018 lalu, menurut data yang dikumpulkan Dr. Eka dan rekannya, terdapat sekitar 550 orang penyintas talasemia di Aceh. Ia menyebutkan jumlah talasemia saat ini mengalami peningkatan, namun belum diketahui pasti berapa jumlahnya.

Menjadi penyintas talasemia tidak mudah karena memiliki ketergantungan terhadap darah. Pasien biasanya menjalani transfusi darah setiap tiga minggu atau sebulan.

Seorang penyintas talasemia, Annisa Octiandari Pertiwi menceritakan pengalamannya dalam talkshow tersebut. Menurutnya, sebaiknya setiap pasien talasemia punya 20 orang pendonor tetap sukarela untuk menghindari kosong darah ketika hendak transfusi.

Terlebih di masa pandemi, kesadaran orang untuk donor darah menurun. "Kami berharap kita semua punya kesadaran untuk donor darah rutin karena sekantong darah yang didonasikan, membantu menyehatkan dan menyelamatkan nyawa orang lain," kata Annisa. (*)

×
Berita Terbaru Update