Notification

×

Belajar dari Sunda Wiwitan, Cirendeu Menjaga Alam dan Mengolah Pangan

Jumat, 16 Januari 2026 | 15.26 WIB Last Updated 2026-01-16T08:26:50Z


 


GEMARNEWS.COM, JAWA BARAT - “Alam dan manusia itu satu rupa, satu kesatuan. Kalau alam rusak, manusia juga rusak.” Kalimat ini menjadi pijakan hidup masyarakat adat Sunda Wiwitan di Kampung Adat Cirendeu, Kota Cimahi, Jawa Barat. 


Nilai tersebut pula yang dipelajari langsung oleh tim GreenFaith Indonesia saat melakukan kunjungan ke masyarakat adat Sunda Wiwitan Kampung Cireundeu Cimahi, Rabu (14/1/2026), untuk memahami bagaimana kearifan lokal merawat hutan, pangan, dan kehidupan secara berkelanjutan.


Kunjungan GreenFaith Indonesia ke Cirendeu bertujuan menjalin dialog dengan tokoh adat, menggali praktik kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan, serta membuka ruang kolaborasi antara Greenfaith dan masyarakat adat.


“Bagi kami, hutan adalah Ibu. Hidup manusia bergantung pada alam. Kalau Ibu dirawat, manusia akan sejahtera,” ujar Sudrajat selaku Girang Serat Kampung Adat Cirendeu, sekaligus pemandu wisata, saat berdiskusi bersama tim GreenFaith Indonesia.


Menurut Sudrajat, atau yang akrab disapa Mang Jajat ini, masyarakat Cirendeu hidup berdampingan secara harmonis antara penganut Sunda Wiwitan, warga muslim, maupun keyakinan lainnya. Nilai adat yang kini masih dijalankan mengajarkan pengendalian diri dan penghormatan terhadap alam, termasuk pantangan mengenakan pakaian berwarna merah serta tidak mengenakan alas kaki saat memasuki kawasan hutan atau mendaki Puncak Salam.


Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, Hening Parlan, menyampaikan bahwa GreenFaith bekerja pada isu lingkungan berbasis lintas iman dan secara konsisten belajar dari komunitas akar rumput, termasuk masyarakat adat dan penghayat kepercayaan. “Kami datang untuk belajar. Nilai-nilai masyarakat adat sangat penting untuk menjawab krisis iklim dan krisis ekologis hari ini,” kata Hening.


Ia menambahkan, pengakuan negara terhadap masyarakat adat menjadi bagian penting dari upaya perlindungan lingkungan. Kampung Adat Cirendeu sendiri telah memperoleh Surat Keputusan sebagai Kesatuan Masyarakat Hukum Adat (KMHA) pada 2024, yang memperkuat legalitas dan perlindungan wilayah adat di tengah tekanan pembangunan.


Selain menjaga hutan, masyarakat Cirendeu juga mempertahankan kedaulatan pangan dengan tidak bergantung pada beras. Sejak 2008, kampung ini dikenal sebagai contoh ketahanan pangan nasional melalui konsumsi rasi atau nasi singkong sebagai makanan pokok.


Dalam kunjungan tersebut, tim GreenFaith Indonesia juga menyimak langsung proses pembuatan rasi, mulai dari memotong, memarut, memeras, menjemur, menumbuk, hingga mengayak singkong menjadi bahan pangan siap konsumsi.


Tak hanya itu, tim juga mencicipi dan membawa pulang beragam olahan singkong khas Cirendeu, seperti cireng singkong, egg roll singkong, hingga dendeng kulit singkong.


Praktik ini menunjukkan bahwa pangan lokal bukan sekadar tradisi, tetapi bagian dari strategi hidup berkelanjutan.


Kunjungan ini diharapkan menjadi sarana pembelajaran sekaligus penguatan jejaring, sehingga nilai-nilai tradisi yang selaras dengan alam dapat menjadi inspirasi bagi gerakan lingkungan lintas iman.




“Kunjungan ini mengingatkan kita bahwa masyarakat adat adalah penjaga nilai-nilai ekologis yang sangat penting. Melindungi masyarakat adat berarti melindungi alam dan masa depan bersama,” tutup Hening.


--


Tentang GreenFaith Indonesia


GreenFaith adalah organisasi akar rumput global lintas agama yang membangun gerakan untuk keadilan iklim. Di Indonesia, GreenFaith berdiri sejak 2023 dengan fokus pada Faith for Climate Action, yaitu aksi nyata individu lintas agama dalam mengatasi dampak perubahan iklim, pelatihan lintas agama untuk climate justice, serta membangun perspektif lintas agama dalam transisi energi. Update kegiatan GreenFaith Indonesia dapat diikuti melalui Instagram @greenfaith.id.

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update