Notification

×

Merawat Bumi sebagai Jalan Suci: Kampus Khonghucu dan GreenFaith Dorong Ekoteologi Lintas Iman

Minggu, 18 Januari 2026 | 17.53 WIB Last Updated 2026-01-18T10:53:06Z


 

GEMARNEWS.COM, PURWOKERTO  - Manusia memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga hubungan yang harmonis antara sesama manusia dan alam. Tanggung jawab tersebut menuntut peran aktif pemuka agama, akademisi, dan masyarakat dalam merawat nilai-nilai etis dan spiritual yang menopang keberlanjutan kehidupan. 


Hal ini disampaikan Ketua Sekolah Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (STIKIN) Purwokerto, Yesica Cukarestu, S.Pd., MTCSOL, dalam Kuliah Umum bertajuk “Mendorong Kajian Ekoteologi Lintas Iman – Perguruan Tinggi Khonghucu” pada Sabtu (17/1/2026).


Kuliah Umum yang dilaksanakan secara daring tersebut diselenggarakan oleh GreenFaith Indonesia bekerja sama dengan STIKIN Purwokerto Kegiatan ini diikuti oleh 31 peserta yang berasal dari civitas akademika serta pemerhati isu lintas iman dan lingkungan.


Dalam sambutannya, Yesica menegaskan bahwa dialog dan kerja sama lintas iman membuka ruang kolaborasi antarumat beragama yang tidak hanya berkontribusi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman Indonesia. “Forum akademik seperti kuliah umum ini menjadi langkah yang sangat baik dan relevan dalam menjawab tantangan krisis ekologis saat ini,” ungkap Yesica.


Ia juga menekankan peran strategis kampus, tidak hanya dalam mencetak generasi unggul secara akademis, tetapi juga membentuk karakter yang kuat secara etis dan spiritual dalam kepedulian terhadap lingkungan. “Kampus harus menjadi ruang bertukar gagasan yang produktif, melahirkan pemahaman yang lebih baik mengenai persoalan lingkungan, sekaligus mendorong langkah-langkah konkret yang memberi manfaat nyata,” ujarnya.


Sementara itu, Ws Mulyadi Liang, M.Ag, Dosen STIKIN Purwokerto, mengulas ekoteologi dalam perspektif Khonghucu. Ia menyampaikan bahwa ajaran suci, jika dihidupi secara utuh, menuntun manusia untuk hidup selaras dengan alam sebagai bagian dari Jalan Suci. 


Dalam pandangan Khonghucu, manusia dan alam merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan. “Bumi dipandang sebagai ibu yang memberi kehidupan, sementara langit adalah ayah. Alam semesta merupakan perwujudan kemahakuasaan Tian. Karena itu, merusak alam berarti melawan kehendak Tuhan,” jelasnya.


Ia menambahkan bahwa pilar utama ekoteologi Khonghucu menekankan kebajikan yang melindungi dan memelihara kehidupan. Prinsip jalan tengah menjadi pedoman penting dalam praktik ekologis, seperti konsumsi secukupnya, tidak rakus, serta memanfaatkan alam secara bijak sambil tetap melestarikannya. Kesadaran tersebut, menurutnya, perlu diwujudkan dalam aksi nyata melalui kolaborasi lintas lembaga keagamaan, termasuk kegiatan penanaman pohon di lingkungan kampus.


Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, Hening Parlan, menjelaskan bahwa ekoteologi berangkat dari pemahaman bahwa iman dan lingkungan tidak dapat dipisahkan. Ajaran agama sejatinya mengatur tiga relasi utama sekaligus, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam.


“Seluruh kehidupan manusia bergantung pada alam. Apa yang kita makan dan gunakan dalam ibadah semuanya berasal dari alam. Karena itu, membangun spiritualitas antara manusia dan bumi harus dilandasi cinta kasih, agar hubungan tersebut tidak berjarak dan tidak bersifat eksploitatif,” ungkap Hening.


Ia menyoroti besarnya potensi peran agama dalam mendorong perubahan. Sekitar 84 persen populasi dunia memiliki afiliasi keagamaan, dan laporan SDGs 2023 mencatat bahwa kolaborasi antar kelompok agama berperan penting dalam pembangunan berkelanjutan. Salah satu contoh konkret adalah Faith Pavilion yang diinisiasi pada COP28 di Dubai, yang melibatkan sekitar 80 organisasi keagamaan lintas iman, termasuk peluang kontribusi komunitas Khonghucu.


Lebih lanjut, Hening menegaskan peran strategis perguruan tinggi dalam memperkuat gerakan ekoteologi melalui riset dan pengabdian kepada masyarakat. Kampus dapat mengidentifikasi tantangan lingkungan di wilayahnya, mengembangkan riset sebagai pengetahuan baru, dan mengimplementasikannya melalui pengabdian yang berdampak, sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi.


Melalui kuliah umum ini, GreenFaith Indonesia dan STIKIN Purwokerto berharap kajian ekoteologi lintas iman, khususnya dalam konteks perguruan tinggi Khonghucu, dapat terus berkembang dan mendorong lahirnya aksi nyata untuk merawat bumi sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual dan moral lintas generasi. (*)

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update