Setiap anak menerima santunan sebesar Rp350.000, dengan rincian Rp250.000 digunakan untuk membeli pakaian baru, sementara Rp100.000 diberikan sebagai uang lebaran yang telah disiapkan dalam amplop.
Para anak yatim didampingi langsung oleh panitia saat berbelanja di sejumlah toko di Pasar Kota Beureunuen, seperti Serbana Grosir, Serba Na Kolektion, dan Rifki Jaya Koleksion. Kegiatan berlangsung sejak pukul 10.00 WIB hingga 16.00 WIB, Kamis (19/3/2026).
Koordinator kegiatan, Taufik Abdullah, mengatakan bahwa anak-anak yatim terlihat sangat bahagia karena dapat memilih sendiri pakaian sesuai selera mereka.
“Ini merupakan kegiatan keempat yang kami laksanakan, dan Alhamdulillah berjalan sukses. Kami berhasil menggalang dana lebih dari Rp12 juta dari berbagai donatur, baik dari dalam maupun luar negeri,” ujar Taufik, yang juga pengusaha asal Kembang Tanjong.
Ia menyebutkan, para donatur berasal dari berbagai daerah seperti Australia, Jakarta, Singapura, Palembang, Medan, Banda Aceh, hingga Pidie.
Sementara itu, Abdullah Syafi’ie menegaskan bahwa seluruh bantuan disalurkan secara utuh tanpa potongan untuk panitia.
“Amanah ini kami tunaikan sepenuhnya. Anak yatim yang diprioritaskan adalah mereka yang benar-benar fakir miskin, dengan pendataan yang akurat by name by address,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, turut hadir tokoh muda Pidie, Haji Jamaluddin M Jamil. Ia memberikan motivasi kepada anak-anak yatim agar tetap semangat meraih masa depan.
“Jangan minder dan jangan patah semangat. Jadilah generasi yang visioner dan berakhlak,” pesannya.
Ia juga mencontohkan kisah Nabi Muhammad SAW sebagai inspirasi.
“Rasulullah adalah anak yatim yang kemudian menjadi pemimpin umat manusia. Dari seorang pedagang menjadi pemimpin dunia. Jadikan itu sebagai teladan,” ujar Jamaluddin di hadapan anak-anak yatim di Masjid Baitul Huda, Mutiara Timur.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal TOMPi, Muhammad Nur, menyampaikan apresiasi kepada seluruh donatur yang telah berpartisipasi dalam kegiatan sosial tersebut.
Ia juga menyebut bahwa kegiatan ini bukan sekadar bantuan, tetapi menjadi bagian dari ikatan emosional antar sesama diaspora Pidie di berbagai daerah bahkan luar negeri.
“Ini adalah bentuk ingatan kolektif dan hubungan sosial lintas diaspora. Ke depan, kami berharap bisa memperluas jaringan hingga ke Eropa dan wilayah lainnya,” tutupnya.