GEMARNEWS.COM, PIDIE — Menyambut peringatan Hari Damai Aceh yang diperingati setiap 15 Agustus, Ketua DPRK Pidie Anwar Sastra Putra, S.H., mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum bersejarah tersebut sebagai refleksi untuk memperkuat persatuan, menjaga perdamaian, serta bersama-sama membangun Aceh yang lebih maju dan sejahtera.14/8/2026.
Ajakan itu disampaikan Anwar Sastra Putra bersama Drs. M. Isa Alima, mantan Anggota DPRK Pidie sekaligus pemerhati kebijakan publik, dalam momentum mengenang 21 tahun penandatanganan MoU Helsinki yang menjadi salah satu tonggak penting perjalanan perdamaian Aceh.
Menurut Anwar, perdamaian yang terwujud melalui proses panjang dan kemudian dituangkan dalam kesepahaman di Helsinki merupakan anugerah besar yang harus dijaga oleh seluruh elemen masyarakat.
“Marilah kita memperingati Hari Damai Aceh dengan penuh rasa syukur, ketenangan hati, dan diiringi doa bersama. Semoga perdamaian yang telah terwujud menjadi kekuatan nyata untuk terus membangun Aceh yang aman, bermartabat, dan sejahtera bagi kita semua,” ujar Anwar Sastra Putra, S.H.
Ia menegaskan, perdamaian bukan hanya tentang berakhirnya konflik, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat mampu mempertahankan kehidupan yang harmonis di tengah perbedaan.
Karena itu, nilai-nilai perdamaian harus terus diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Perbedaan pandangan, kata dia, hendaknya diselesaikan melalui dialog, musyawarah, serta sikap saling menghormati.
“Jangan sampai generasi hari ini melupakan betapa mahalnya harga sebuah perdamaian. Apa yang telah kita nikmati saat ini harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang,” katanya.
Generasi Muda Harus Memahami Sejarah Perdamaian
Sementara itu, Drs. M. Isa Alima mengajak generasi muda Aceh untuk mempelajari sejarah perjalanan panjang menuju perdamaian.
Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah penting agar generasi penerus tidak hanya mengetahui tanggal penandatanganan MoU Helsinki, tetapi juga memahami nilai persaudaraan, toleransi, persatuan, dan rekonsiliasi yang menjadi bagian penting dari perjalanan Aceh.
“Generasi muda harus mengetahui sejarah. Perdamaian bukan sesuatu yang datang begitu saja. Ada proses panjang yang harus dipahami agar semangat persaudaraan dan persatuan terus terjaga,” ujar M. Isa Alima.
Ia berharap momentum Hari Damai Aceh dapat menjadi ruang refleksi bagi seluruh masyarakat untuk memperkuat kebersamaan dan menghindari berbagai bentuk konflik sosial yang dapat mengganggu stabilitas daerah.
Bukan Sekadar Mengenang Sejarah
Peringatan Hari Damai Aceh tidak semata-mata menjadi agenda untuk mengenang penandatanganan MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005.
Lebih dari itu, momentum tersebut diharapkan menjadi pengingat bahwa perdamaian harus terus diisi dengan pembangunan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, pemerataan ekonomi, pendidikan yang berkualitas, serta penegakan keadilan.
Aceh yang damai, aman, dan stabil merupakan modal penting untuk mempercepat pembangunan di seluruh wilayah.
Anwar Sastra Putra dan M. Isa Alima juga mengajak masyarakat Pidie dan seluruh rakyat Aceh untuk menjadikan peringatan Hari Damai Aceh sebagai momentum memperkuat ukhuwah, menjaga kerukunan, serta menghargai perbedaan.
“Semoga Aceh senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT. Mari kita jaga perdamaian, perkokoh persatuan, dan bersama-sama membangun Aceh agar semakin aman, maju, bermartabat, dan sejahtera,” demikian harapan yang disampaikan dalam momentum Hari Damai Aceh.