Notification

×

Dari Pesisir Aceh ke Jakarta, Natural Aceh Bawa Kisah Perempuan Tangguh

Selasa, 20 Oktober 2026 | 07.59 WIB Last Updated 2026-10-20T00:59:46Z


GEMARNEWS.COM,JAKARTA – Natural Aceh akan membawa pengalaman pemberdayaan ekonomi perempuan pesisir Aceh ke forum internasional Accelerating Women’s Entrepreneurship & Unlocking Funding for Women’s Economic Empowerment (WEE) in Indonesia yang diselenggarakan AVPN pada Kamis, 5 November 2026, di Shangri-La Jakarta, Jakarta Pusat. 20/10/2026.

Dalam forum yang dijadwalkan berlangsung pukul 10.00–13.00 WIB tersebut, Director Natural Aceh, Zainal Abidin Suarja, akan berbagi pengalaman mengembangkan solusi pemberdayaan ekonomi perempuan berbasis komunitas, mulai dari budidaya dan pengolahan tiram, perlindungan ekosistem mangrove, hingga penguatan akses pasar bagi istri nelayan.

Partisipasi ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan praktik pemberdayaan perempuan pesisir Aceh kepada jejaring organisasi pembangunan, pelaku usaha, pemerintah, dan pihak pendukung pendanaan sosial.

Pengalaman Natural Aceh juga diharapkan dapat memperkaya diskusi mengenai upaya memperluas usaha perempuan melalui penguatan kapasitas, kemitraan, akses pembiayaan, serta ekosistem bisnis yang berkelanjutan.

Natural Aceh Tampil dalam Dua Sesi Utama

Berdasarkan agenda acara yang diterima, Natural Aceh dijadwalkan terlibat dalam dua sesi utama.

Pada pukul 10.15–10.35 WIB, Natural Aceh akan tampil dalam sesi Impact Spotlight: Champions of Women’s Entrepreneurship. Sesi ini menghadirkan organisasi-organisasi yang berbagi pengalaman tentang solusi nyata untuk mendukung perempuan pelaku usaha dan mengembangkan model pemberdayaan ekonomi perempuan di Indonesia.

Selain Natural Aceh, sesi tersebut mencantumkan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia melalui Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta serta Yayasan Generasi Maju Berkarya melalui Generation Girl.

Selanjutnya, pada pukul 10.35–11.20 WIB, Zainal Abidin Suarja dijadwalkan menjadi panelis dalam diskusi bertajuk “Forging the Path: Founder, Funder, Advisor and Government”.

Diskusi ini akan membahas perjalanan membangun usaha, dukungan pendanaan, pendampingan bisnis, serta peran pemerintah dalam memperluas usaha yang dipimpin perempuan maupun usaha yang menopang mata pencaharian perempuan.

Panel tersebut dimoderatori Joyita Ambett dan menghadirkan empat panelis, yakni Irene Umar, Deputy Minister, Ministry of Creative Economy Indonesia; Amira Ganis, President Director of Brawijaya Healthcare; Anggred Sutetjardja, Chief Sustainability Officer BUMA International; serta Zainal Abidin Suarja, Director Natural Aceh.

Keterlibatan dalam kedua sesi tersebut membuka ruang bagi Natural Aceh untuk menyampaikan perspektif dari lapangan mengenai tantangan dan peluang pengembangan ekonomi perempuan di wilayah pesisir.

Mengembangkan Usaha Tiram Sekaligus Menjaga Mangrove

Salah satu pengalaman Natural Aceh berasal dari Alue Naga, Banda Aceh, melalui pengembangan peluang mata pencaharian perempuan yang berkaitan dengan komoditas tiram.

Perempuan pesisir yang sebelumnya bergantung pada kegiatan pengumpulan tiram didorong untuk mengembangkan peluang ekonomi melalui budidaya serta pengolahan hasil menjadi produk bernilai tambah.

Produk seperti keripik, kerupuk, nugget, dan bubuk tiram membuka peluang diversifikasi usaha. Dengan pengolahan yang tepat, hasil laut tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi juga berpotensi menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Upaya penguatan ekonomi tersebut berkaitan erat dengan keberlanjutan lingkungan pesisir. Ekosistem mangrove berperan penting dalam melindungi garis pantai, menyediakan habitat bagi berbagai organisme, serta mendukung keberlanjutan sumber daya alam yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat.

Karena itu, Natural Aceh mendorong pendekatan yang menghubungkan peningkatan pendapatan perempuan dengan upaya menjaga ekosistem pesisir. Perempuan tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat program, tetapi juga sebagai pelaku usaha dan bagian penting dalam pengelolaan sumber daya serta pembangunan ekonomi komunitas.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan ketika dirancang sesuai dengan kebutuhan dan potensi masyarakat setempat.

Pasar Laut Aceh Bantu Perluas Akses Pasar Istri Nelayan

Pengalaman lainnya diwujudkan melalui inisiatif Pasar Laut Aceh yang mendukung sekitar 300 istri nelayan di Leupung, Lamteungoh, dan Pulo Aceh dalam memasarkan produk lokal.

Produk yang dipasarkan antara lain ikan asin, garam, dan kelapa. Inisiatif ini berangkat dari pentingnya akses pasar bagi perempuan yang telah memiliki keterampilan dan menjalankan aktivitas ekonomi, tetapi masih menghadapi kendala dalam menjangkau pembeli dan memperluas usaha.

Melalui penguatan pemasaran produk lokal, Pasar Laut Aceh berupaya membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi perempuan pesisir sekaligus memperkuat peran mereka dalam rantai nilai hasil laut dan komoditas lokal.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pemberdayaan ekonomi perempuan tidak cukup hanya melalui pelatihan. Keterampilan produksi perlu diikuti akses pasar, jaringan usaha, dukungan teknologi yang sesuai, pembiayaan inklusif, dan kemitraan yang memungkinkan usaha berkembang secara berkelanjutan.

Tanpa dukungan tersebut, usaha perempuan berisiko berhenti pada skala kecil dan sulit berkembang. Sebaliknya, ketika akses pasar dan dukungan usaha diperkuat, produk lokal berpeluang menjangkau konsumen yang lebih luas serta memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga dan komunitas.

Mendorong Solusi Lokal Menjangkau Lebih Banyak Perempuan

Melalui forum AVPN, Natural Aceh akan berbagi perspektif mengenai bagaimana solusi yang berangkat dari kebutuhan masyarakat dapat dikembangkan dan diterapkan di wilayah lain dengan mempertimbangkan karakteristik lokal.

Memperluas dampak pemberdayaan, dalam pendekatan ini, bukan sekadar meningkatkan jumlah penerima manfaat. Proses tersebut juga membutuhkan model usaha yang sesuai dengan kondisi setempat, akses pasar yang nyata, penguatan kapasitas perempuan, serta kemitraan yang mendukung keberlanjutan program setelah periode pendanaan berakhir.

Zainal Abidin Suarja menekankan pentingnya menempatkan perempuan sebagai pelaku utama dalam pembangunan ekonomi komunitas, sekaligus memastikan sumber daya alam yang menopang mata pencaharian mereka tetap terjaga.

“Pemberdayaan ekonomi perempuan bukan hanya tentang meningkatkan produksi atau memberikan pelatihan. Perempuan perlu memiliki akses terhadap pasar, kesempatan mengembangkan usaha, dan ruang yang lebih besar untuk mengambil keputusan ekonomi. Di wilayah pesisir, semua itu juga harus berjalan seiring dengan keberlanjutan sumber daya alam yang menopang kehidupan masyarakat,” ujar Zainal.

Partisipasi Natural Aceh dalam forum tersebut membawa pengalaman perempuan pesisir Aceh ke dalam percakapan yang lebih luas tentang kewirausahaan perempuan dan dukungan bagi pengembangan usaha.

Melalui pengalaman budidaya dan pengolahan tiram, perlindungan mangrove, serta pemasaran produk lokal, Natural Aceh menyoroti pentingnya pendekatan pemberdayaan yang menghubungkan potensi perempuan, kekuatan komunitas, akses pasar, dan kelestarian lingkungan.

Harapannya, praktik yang berkembang di pesisir Aceh dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memperkuat model pemberdayaan ekonomi perempuan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan di berbagai daerah Indonesia.

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update