Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
Mengapa Penilaian Microteaching Perlu di Perbarui ?
"Menjadi guru bukan sekadar mampu menjelaskan materi di depan kelas. Seorang guru juga harus mampu merancang pembelajaran, membangun interaksi yang positif dengan peserta didik, melakukan penilaian secara adil, serta menunjukkan keteladanan dalam sikap dan perilaku. Karena itu, mempersiapkan calon guru membutuhkan proses pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan keterampilan mengajar dan karakter".
Salah satu tahapan penting dalam mempersiapkan calon guru adalah micro teaching atau pembelajaran mikro. Melalui kegiatan ini, mahasiswa calon guru berlatih mengajar dalam situasi yang lebih sederhana sebelum menghadapi kelas yang sesungguhnya. Mereka belajar membuka pelajaran, menjelaskan materi, mengajukan pertanyaan, menggunakan media pembelajaran, mengelola kelas, hingga mengevaluasi hasil belajar peserta didik.
Namun, ada satu pertanyaan penting yang perlu direnungkan: apakah penilaian dalam kegiatan micro teaching selama ini telah menggambarkan seluruh kompetensi yang harus dimiliki seorang calon guru?
Pertanyaan tersebut menjadi titik awal pentingnya mengembangkan instrumen penilaian yang tidak hanya mengukur keterampilan teknis mengajar, tetapi juga memperhatikan integrasi nilai-nilai karakter dalam proses pembelajaran. Di ruang kelas, siswa tidak hanya belajar dari apa yang dijelaskan guru, tetapi juga dari cara guru bersikap: tepat waktu, jujur, dan menghargai pendapat. Karena itu, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 dan Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi menempatkan kualitas calon guru, termasuk karakternya, sebagai capaian utama pendidikan tinggi.
Tuntutan itu kini makin kuat. Instrumen Akreditasi Program Studi Kependidikan (IAPSK) LAMDIK Versi 3.0, yang ditetapkan lewat Peraturan LAMDIK Nomor 5 Tahun 2025 dan berlaku penuh sejak 2 Desember 2025, menggeser akreditasi dari pemenuhan standar minimal ke Outcome-Based Education (OBE) dan pendidikan berkarakter
Nilai karakter harus masuk ke dalam capaian pembelajaran lulusan (CPL). Untuk microteaching, instrumen ini mewajibkan sarana yang memadai, frekuensi praktik yang cukup, pelatihan delapan keterampilan dasar mengajar, dan instrumen penilaian yang valid sebagai bukti CPL.
Salah satu tempat pertama calon guru menguji diri adalah microteaching, yaitu simulasi mengajar terkontrol di depan kelompok kecil dengan waktu singkat. Latihan ini berjalan dalam siklus merencanakan, mengajar, mengamati, dan mengkritisi, dan terbukti membentuk kompetensi pedagogik sekaligus karakter calon guru (Luo & Li, 2024; Taruli dkk., 2023). Namun, manfaatnya baru optimal bila ditopang instrumen penilaian yang menyeluruh dan terpadu (GonzálezMeléndez dkk., 2023; Rasmawan, 2021). (*)
%20(5).jpg.jpeg)