Notification

×

Ramadan dan Energi: Saatnya Menghentikan Israf untuk Masa Depan yang Lebih Adil

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06.58 WIB Last Updated 2026-03-06T23:58:15Z


 


GEMARNEWS.COM, JAKARTA -  Bulan suci Ramadan tidak hanya menjadi momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi juga ruang spiritual untuk melatih pengendalian diri dari perilaku berlebihan atau israf. Nilai ini tidak hanya berlaku dalam konsumsi makanan dan minuman, tetapi juga relevan dengan cara manusia menggunakan energi dalam kehidupan sehari-hari.


Refleksi tersebut menjadi tema diskusi daring TEB Talks Special Ramadan yang diselenggarakan oleh Transisi Energi Berkeadilan (TEB), bagian dari CERAH, berkolaborasi dengan GreenFaith Indonesia, pada Kamis sore, 5 Maret 2026. Diskusi ini disiarkan melalui Instagram Live di akun @greenfaith.id dan menghadirkan Ustaz Niki Alma Febriana Fauzi dari GreenFaith Indonesia sebagai narasumber, dengan Annisa Dian Ndari dari TEB sebagai host.


Dalam pengantar diskusi, Annisa menegaskan bahwa Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk belajar hidup sederhana dan menjauhi perilaku konsumtif. Prinsip ini sejalan dengan ajaran Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah Al-A’raf ayat 31 yang mengingatkan manusia untuk makan dan minum, tetapi tidak berlebihan karena Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.


“Larangan israf tidak hanya dalam soal makanan atau minuman, tetapi juga dalam penggunaan sumber daya yang menopang kehidupan kita, termasuk energi,” ujarnya.


Sebagai Transisienergiberkeadilan.id Lead, ia menambahkan bahwa ironisnya energi yang digunakan manusia saat ini sebagian besar masih berasal dari sumber fosil seperti batu bara, minyak, dan gas. Penggunaan energi tersebut tidak hanya menghasilkan polusi udara, tetapi juga memicu emisi karbon yang memperparah krisis iklim.


Dampak dari krisis ini justru banyak dirasakan oleh kelompok masyarakat yang paling sedikit berkontribusi terhadap emisi, seperti masyarakat adat, petani, nelayan, dan komunitas rentan di berbagai daerah.


Ustaz Niki menjelaskan bahwa ajaran Islam sejak awal telah menekankan pentingnya menghindari perilaku berlebihan dalam memanfaatkan sumber daya. Ia mencontohkan sebuah hadis yang menceritakan Rasulullah menegur seorang sahabat yang menggunakan air secara berlebihan saat berwudu.


“Bahkan jika seseorang berwudu di sungai yang airnya mengalir, Rasulullah tetap mengingatkan agar tidak menggunakan air secara berlebihan. Ini menunjukkan bahwa prinsip hemat dan tidak melampaui batas sangat kuat dalam ajaran Islam,” ujarnya. 


Ustaz Niki menambahkan bahwa pesan tersebut sangat relevan dengan semangat Ramadan, yang mengajarkan pengendalian diri dan menjauhi sikap berlebihan. Menurutnya, nilai ini juga dapat diterapkan dalam penggunaan energi sehari-hari agar tidak jatuh pada perilaku israf atau pemborosan.


Selama ini, lanjutnya, kemajuan sering diidentikkan dengan pembangunan fisik yang masif dan penggunaan energi dalam jumlah besar. Padahal dalam perspektif Islam, kemajuan tidak selalu identik dengan kelimpahan konsumsi.


“Dalam ajaran Islam, kemajuan justru berkaitan dengan keseimbangan—keseimbangan antara manusia dan alam, antara kebutuhan dan keberlanjutan,” katanya.


Sebagai salah satu tim penyusun buku Fikih Transisi Energi Berkeadilan, Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki dua mandat sekaligus: memakmurkan bumi sekaligus menjaga keseimbangannya. Ketika sumber daya alam dieksploitasi tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan, keseimbangan tersebut akan terganggu dan memicu berbagai krisis ekologis.


Diskusi ini juga menyoroti bagaimana pola konsumsi masyarakat selama Ramadan kerap bertentangan dengan semangat pengendalian diri. Tidak jarang kebiasaan membeli makanan berlebihan saat berbuka puasa justru meningkatkan produksi sampah makanan.


Padahal Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk melatih kesederhanaan dan kesadaran dalam menggunakan sumber daya.


Menurut Ustaz Niki, perubahan menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dengan membeli barang sesuai kebutuhan, menghemat penggunaan listrik dan air, serta mengurangi pola konsumsi yang berlebihan.


Langkah kecil ini, jika dilakukan secara luas, dapat menjadi bagian dari upaya kolektif dalam menghadapi krisis lingkungan.


Namun ia menegaskan bahwa tanggung jawab tersebut tidak hanya berada di tangan individu. Kesadaran kolektif perlu dibangun melalui keluarga, komunitas, lembaga pendidikan, hingga kebijakan pemerintah yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan.


Transisi energi berkeadilan sendiri merupakan upaya untuk mengalihkan ketergantungan dari energi fosil menuju energi bersih yang lebih ramah lingkungan dan dapat diakses secara adil oleh seluruh masyarakat.


Melalui diskusi TEB Talks Special Ramadan ini, penyelenggara berharap nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam ajaran agama dapat menjadi inspirasi untuk membangun kesadaran ekologis di tengah masyarakat.


Ramadan diharapkan tidak hanya menjadi momentum ibadah personal, tetapi juga ruang refleksi untuk membangun gaya hidup yang lebih sederhana, adil, dan berkelanjutan.


“Jika kita mampu mengurangi perilaku israf, termasuk dalam penggunaan energi, maka itu adalah langkah kecil menuju masa depan yang lebih sehat dan berkeadilan bagi semua,” ujar Annisa menutup diskusi.


Melalui forum ini, Transisi Energi Berkeadilan juga mengajak masyarakat untuk terus mengikuti berbagai informasi, riset, dan kampanye terkait energi bersih melalui media sosial @transisienergiberkeadilan serta situs resmi mereka.


Upaya kecil dari banyak orang, diyakini dapat menjadi kekuatan besar untuk mendorong perubahan menuju masa depan energi yang lebih bersih dan berkeadilan.


Tentang Transisi Energi Berkeadilan (TEB) CERAH


Transisi Energi Berkeadilan (TEB) yang diusung oleh Yayasan CERAH (Clean, Renewable, and Equitable Energy Action) adalah konsep peralihan dari energi fosil (batu bara, minyak, gas) ke energi terbarukan yang dilakukan secara inklusif, tidak hanya fokus pada teknologi, tetapi juga memprioritaskan pembangunan manusia, kesetaraan, dan perlindungan bagi kelompok rentan.


Tentang GreenFaith Indonesia

 

GreenFaith Indonesia merupakan bagian dari GreenFaith, gerakan global lintas agama yang mendorong aksi akar rumput untuk keadilan iklim dan energi bersih. Berdiri di Indonesia sejak 2023, GreenFaith Indonesia memperkuat keterlibatan komunitas lintas agama dalam aksi iklim melalui pelatihan, advokasi, dan penguatan perspektif lintas iman dalam mendorong transisi energi dan perlindungan lingkungan. Update kegiatan GreenFaith Indonesia dapat diikuti melalui Instagram @greenfaith.id dan website @greenfaith.org


Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update