Notification

×

Ketika Pengabdian Lebih Berharga daripada Jabatan

Selasa, 20 Oktober 2026 | 07.56 WIB Last Updated 2026-10-20T00:56:44Z

Dok Foto Penulis : Linda Handayani, S.Pd., M.Pd.


OPINI - Menjadi seorang akademisi bukan sekadar menjalani rutinitas masuk ruang kuliah, menyampaikan materi, lalu mengejar angka kredit demi kenaikan jabatan fungsional. Lebih dari itu, akademisi merupakan bagian dari perjalanan panjang peradaban: sebuah ikhtiar tanpa akhir untuk merawat pengetahuan, membentuk karakter generasi, dan menjadi kompas moral bagi masyarakat.

Namun, panggung akademik tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada kalanya gagasan besar yang dirancang untuk memajukan institusi harus berhadapan dengan realitas pemilihan jabatan struktural. Harapan untuk memimpin yang telah dipersiapkan dengan sungguh-sungguh ternyata harus berakhir ketika kesempatan itu jatuh ke tangan orang lain.

Di titik inilah kedewasaan seorang ilmuwan benar-benar diuji. Apakah ia akan tenggelam dalam kekecewaan, atau bangkit dan melanjutkan pengabdian melalui jalan yang berbeda?

Pertanyaan ini penting karena dunia pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar pemimpin yang memiliki kewenangan. Dunia pendidikan membutuhkan pribadi-pribadi yang bersedia mengabdikan pengetahuan, waktu, tenaga, dan pemikirannya demi kemajuan bersama.

Kursi Pimpinan Memiliki Batas, Ilmu Tidak

Dalam ekosistem perguruan tinggi, jabatan seperti rektor, dekan, ketua program studi, atau kepala lembaga kerap dipandang sebagai ruang strategis untuk membawa perubahan. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Jabatan struktural memang memberikan kewenangan untuk merumuskan kebijakan, mengelola sumber daya, dan menentukan arah pengembangan institusi.

Namun, menjadikan jabatan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan pengabdian merupakan kekeliruan yang perlu diluruskan.

Perguruan tinggi membutuhkan pemimpin yang berani mengambil keputusan. Akan tetapi, perguruan tinggi juga membutuhkan dosen yang tekun mengajar, peneliti yang konsisten menghasilkan temuan baru, penulis yang menyebarkan gagasan, serta mentor yang membimbing mahasiswa dengan ketulusan.

Kemajuan pendidikan tidak selalu lahir dari ruang rapat pimpinan. Ia juga tumbuh dari ruang kelas sederhana, diskusi ilmiah, penelitian yang panjang, dan percakapan seorang dosen dengan mahasiswa yang sedang mencari arah masa depan.

Seorang dosen mungkin tidak pernah menduduki jabatan tertinggi di kampus, tetapi pemikirannya dapat menginspirasi ribuan orang. Seorang peneliti mungkin tidak memiliki kewenangan struktural, tetapi hasil penelitiannya dapat menjadi rujukan bagi kebijakan publik. Bahkan, seorang pengajar yang bekerja dalam kesunyian dapat meninggalkan pengaruh yang jauh lebih panjang daripada masa jabatan seorang pemimpin.

Karena itu, tidak terpilih dalam kontestasi jabatan kampus bukanlah akhir dari otoritas intelektual. Jabatan dapat membatasi masa pengabdian seseorang dalam struktur organisasi, tetapi tidak dapat membatasi kemampuan seseorang untuk berpikir, berkarya, dan memberikan manfaat.

Mengelola Kekecewaan, Menjaga Integritas

Tidak terpilih dalam sebuah proses pemilihan tentu dapat menimbulkan kekecewaan. Perasaan itu manusiawi. Ada waktu yang telah dicurahkan, gagasan yang dipersiapkan, harapan yang dibangun, serta tanggung jawab yang ingin diwujudkan.

Tidak adil apabila seseorang dituntut untuk selalu tampak baik-baik saja ketika harapannya tidak tercapai. Setiap orang membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan dan menata kembali langkahnya.

Namun, seorang akademisi dituntut memiliki kemampuan untuk mengelola kekecewaan secara dewasa. Ia perlu menerima hasil dengan lapang dada, melakukan evaluasi diri secara objektif, dan tetap menjaga kehormatan institusi.

Sikap legawa bukan berarti menyerah pada keadaan. Menerima hasil pemilihan juga bukan berarti kehilangan hak untuk berpikir kritis. Kritik yang dibangun berdasarkan data, argumentasi ilmiah, dan kepentingan institusi tetap diperlukan untuk memastikan perguruan tinggi berjalan sesuai prinsip tata kelola yang baik.

Yang perlu dihindari adalah membiarkan kekecewaan berubah menjadi permusuhan pribadi, menghambat kerja sama, atau merusak hubungan kolegial yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Kekalahan dalam pemilihan jabatan tidak semestinya dijadikan ukuran mutlak harga diri. Reputasi seorang intelektual tidak hanya ditentukan oleh surat keputusan pengangkatan, tetapi juga oleh integritas, konsistensi, kualitas karya, dan kontribusinya terhadap masyarakat.

Pada akhirnya, karakter seorang akademisi tidak hanya terlihat ketika ia memperoleh kepercayaan untuk memimpin, tetapi juga ketika ia tidak mendapatkan posisi yang diharapkannya.

Momentum untuk Menemukan Kembali Makna Pengabdian

Kesempatan yang berlalu dapat menjadi momentum untuk melakukan reorientasi pengabdian. Energi yang sebelumnya dicurahkan untuk mempersiapkan diri dalam jabatan struktural dapat dialihkan kembali kepada penguatan keilmuan dan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.

Ada penelitian yang perlu diselesaikan, buku yang perlu ditulis, artikel ilmiah yang perlu diterbitkan, jejaring kolaborasi yang perlu diperluas, serta mahasiswa yang membutuhkan pendampingan lebih dekat.

Semua itu merupakan ruang pengabdian yang nyata dan memiliki nilai strategis bagi masa depan pendidikan.

Bahkan, terbebas dari sejumlah tanggung jawab birokrasi dapat membuka kesempatan bagi seorang dosen untuk memperdalam keilmuan, memperluas cakrawala berpikir, dan menghasilkan karya yang sebelumnya tertunda.

Pengabdian tidak harus berhenti hanya karena seseorang tidak lagi berada dalam pusat pengambilan keputusan. Sebaliknya, pengalaman mengikuti kontestasi kepemimpinan dapat menjadi sumber pembelajaran untuk memahami persoalan institusi secara lebih utuh.

Pengalaman tersebut dapat membantu seseorang melihat bahwa perubahan tidak selalu dapat diwujudkan melalui kewenangan formal. Perubahan juga membutuhkan ketekunan, keteladanan, gagasan yang kuat, dan kesediaan untuk bekerja bersama.

Dengan demikian, kehilangan kesempatan menduduki jabatan tidak harus dimaknai sebagai kehilangan kesempatan untuk berkontribusi. Justru, keadaan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk menemukan kembali makna pengabdian yang lebih mendasar.

Kampus Harus Merangkul, Bukan Meminggirkan

Kedewasaan dalam kehidupan akademik bukan hanya tanggung jawab mereka yang tidak terpilih. Institusi dan pemimpin yang memperoleh amanah juga memiliki tanggung jawab besar untuk membangun kembali kepercayaan serta menjaga persatuan sivitas akademika.

Pemilihan pimpinan semestinya menjadi bagian dari mekanisme organisasi untuk menentukan arah kepemimpinan, bukan menjadi awal dari pengelompokan berdasarkan siapa yang mendukung dan siapa yang tidak mendukung.

Setelah proses pemilihan selesai, seluruh potensi intelektual perlu dirangkul. Perbedaan pilihan tidak boleh menjadi alasan untuk mengisolasi seseorang, memutus kolaborasi, menghambat pengembangan karier, atau membungkam kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab.

Perguruan tinggi yang sehat adalah perguruan tinggi yang mampu menempatkan kepentingan institusi di atas kepentingan kelompok. Kepemimpinan yang kuat bukan hanya terlihat dari kemampuannya memenangkan proses pemilihan, melainkan juga dari kemampuannya merangkul pihak yang berbeda pandangan.

Demikian pula, pihak yang tidak terpilih tetap memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga suasana akademik yang sehat. Perbedaan pendapat harus dikelola melalui dialog, argumentasi, dan mekanisme institusional yang adil.

Dalam lingkungan pendidikan tinggi, kemenangan sejati bukanlah ketika satu kelompok berhasil menguasai seluruh ruang pengambilan keputusan. Kemenangan sejati adalah ketika perguruan tinggi mampu bergerak maju dengan melibatkan seluruh potensi terbaik yang dimilikinya.

Mengabdi Tanpa Menanti Tepuk Tangan

Pada akhirnya, perjalanan akademik mengajarkan bahwa tidak semua ikhtiar akan berakhir dengan jabatan yang diinginkan. Namun, setiap proses selalu menyediakan kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan mematangkan karakter.

Kita tidak harus duduk di kursi pimpinan untuk membantu mahasiswa menemukan masa depannya. Kita tidak membutuhkan kewenangan struktural untuk menghasilkan pemikiran yang bermanfaat. Kita juga tidak harus memperoleh pengakuan formal untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.

Jabatan memiliki masa berlaku. Pemimpin akan berganti, struktur organisasi akan berubah, dan kebijakan dapat diperbarui sesuai kebutuhan zaman. Sementara itu, ilmu yang diwariskan, karakter yang dibentuk, dan karya yang memberikan manfaat dapat terus hidup melampaui masa jabatan seseorang.

Tentu, jabatan bukan sesuatu yang harus dihindari. Kepemimpinan merupakan amanah penting yang dapat menjadi sarana memperluas manfaat. Namun, jabatan seharusnya ditempatkan sebagai alat untuk mengabdi, bukan sebagai tujuan akhir dari perjalanan seorang akademisi.

Ketika jabatan dijadikan tujuan utama, seseorang berisiko mengukur keberhasilannya hanya dari posisi yang berhasil diraih. Sebaliknya, ketika pengabdian menjadi orientasi utama, seseorang akan tetap menemukan ruang untuk berkarya, bahkan ketika kesempatan memimpin belum berpihak kepadanya.

Di sinilah makna sesungguhnya menjadi seorang pendidik: kesediaan untuk terus memberikan manfaat tanpa selalu menunggu tepuk tangan, penghargaan, atau pengakuan.

Sebab, ukuran keberhasilan seorang akademisi bukan semata-mata seberapa tinggi jabatan yang pernah didudukinya, melainkan seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya bagi ilmu pengetahuan, mahasiswa, institusi, dan masyarakat.

Ketika satu pintu struktural tertutup, bukan berarti seluruh jalan pengabdian ikut berakhir. Bisa jadi, justru pada saat itulah seseorang menemukan kembali alasan paling mendasar mengapa ia memilih jalan pendidikan.

Bukan sekadar untuk menjadi seseorang yang memiliki jabatan, melainkan untuk menjadi manusia yang hidupnya bermakna bagi sesama.

Karena pada akhirnya, jabatan mungkin membuat seseorang didengar untuk sementara waktu, tetapi ketulusan pengabdian dan kekuatan ilmu dapat membuat pemikirannya terus hidup lintas generasi.

Penulis: Linda Handayani, S.Pd., M.Pd., Mahasiswa Doktoral Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Dosen UMMAH

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update