Notification

×

Sekjen PERMAHI: Pemuda Jangan Cuma Jadi Penonton Menuju Indonesia Emas 2045

Minggu, 18 Oktober 2026 | 09.45 WIB Last Updated 2026-10-18T02:45:58Z


GEMARNEWS.COM, JAKARTA – Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (DPN PERMAHI), Muhammad Afghan Ababil, mengapresiasi komitmen Pemuda Indonesia Raya (PEMIRA) dalam mendukung pelaksanaan Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menuju Indonesia Emas 2045.

Menurut Afghan, konsolidasi organisasi kepemudaan menjadi langkah penting untuk memperkuat persatuan generasi muda sekaligus mendorong keterlibatan mereka dalam pembangunan nasional.

Apresiasi tersebut disampaikan menyusul konsolidasi anggota PEMIRA di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (17/10/2026). Dalam kegiatan itu, Koordinator PEMIRA, Bintang Wahyu Saputra, menegaskan komitmen organisasinya mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan pelaksanaan Asta Cita melalui deklarasi delapan poin menuju Indonesia Emas 2045.

Afghan menilai, pemuda memiliki posisi strategis dalam menentukan arah masa depan bangsa. Karena itu, generasi muda tidak cukup hanya menjadi penonton, tetapi harus tampil sebagai penggerak perubahan yang mampu menyumbangkan gagasan, kompetensi, dan tenaga untuk menjawab berbagai tantangan nasional.

“Saya mengapresiasi Pemuda Indonesia Raya yang mengambil inisiatif untuk menjadi garda terdepan dalam menyukseskan Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045. PEMIRA harus menjadi rumah bersama bagi generasi muda untuk menyatukan gagasan, membangun kapasitas, dan melanjutkan mandat historis Sumpah Pemuda dalam konteks tantangan zaman hari ini,” ujar Afghan.

Ia menegaskan, semangat Sumpah Pemuda yang lahir pada 28 Oktober 1928 harus terus diwujudkan melalui tindakan nyata. Persatuan, kemandirian nasional, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pemerataan kesempatan bagi generasi muda merupakan bagian penting dalam mempersiapkan masa depan Indonesia.

Dalam pandangannya, PEMIRA memiliki peluang untuk menjadi wadah penyaluran aspirasi lintas latar belakang sekaligus tempat pembentukan kepemimpinan pemuda yang berorientasi pada kepentingan bangsa.

Namun, dukungan terhadap agenda pembangunan nasional, lanjut Afghan, harus diwujudkan melalui program yang konkret, terukur, dan berkelanjutan, bukan sebatas deklarasi atau pernyataan politik.

“Melanjutkan mandat Sumpah Pemuda berarti memastikan bahwa persatuan tidak berhenti pada kesamaan identitas, tetapi berkembang menjadi kesamaan tanggung jawab untuk memajukan bangsa. Pemuda harus hadir dengan gagasan, kompetensi, integritas, dan keberanian untuk mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan nasional,” tegasnya.

Afghan juga menekankan bahwa dukungan terhadap pemerintah perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab intelektual dan fungsi kontrol sosial. Menurutnya, sikap kritis yang konstruktif tetap diperlukan agar kebijakan publik terlaksana secara efektif, transparan, berkeadilan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ia berpandangan bahwa keberhasilan mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Peningkatan akses pendidikan, perluasan lapangan kerja, penguatan kewirausahaan, pemerataan pembangunan, serta pembentukan karakter dan integritas generasi muda juga menjadi faktor penentu.

“Asta Cita harus menjadi agenda bersama yang manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Pemuda harus mengambil posisi sebagai bagian dari solusi, mendukung pembangunan yang berorientasi pada kepentingan rakyat, sekaligus memastikan cita-cita besar bangsa diterjemahkan menjadi kebijakan yang nyata dan dapat dipertanggungjawabkan,” lanjutnya.

Sebagai Sekretaris Jenderal DPN PERMAHI, Afghan turut menyoroti pentingnya kolaborasi antarlembaga kepemudaan. Perbedaan latar belakang dan orientasi organisasi, menurutnya, tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun agenda bersama dalam bidang pembangunan nasional, penegakan hukum, demokrasi, dan kesejahteraan masyarakat.

Ia berharap PEMIRA terus memperkuat konsolidasi internal, memperluas partisipasi pemuda, serta menghadirkan program yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

Dengan demikian, organisasi kepemudaan tidak hanya menjadi tempat berhimpun, tetapi juga ruang lahirnya gagasan, kepemimpinan, dan pengabdian kepada bangsa.

“Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud hanya dengan menunggu datangnya momentum. Ia harus dipersiapkan sejak sekarang melalui kerja kolektif, persatuan, dan keberanian generasi muda untuk mengambil tanggung jawab,” tutup Afghan.

Melalui konsolidasi dan kolaborasi yang berkelanjutan, generasi muda diharapkan mampu memperkuat persatuan nasional sekaligus mengambil peran aktif dalam menentukan arah pembangunan Indonesia menuju 2045. tuturnya. 

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update